Pecah Kongsi, Hubungan Garuda dengan Sriwijaya Dilanjutkan B to B

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Quality, Safety, dan Security PT Sriwijaya Air Toto Subandoro (tengah) menjelaskan soal pembuatan surat rekomendasi penghentian operasional maskapai penerbangan Sriwijaya dalam diskusi di Kopi Oey, Sabang, Jakarta Pusat, Senin, 30 September 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Direktur Quality, Safety, dan Security PT Sriwijaya Air Toto Subandoro (tengah) menjelaskan soal pembuatan surat rekomendasi penghentian operasional maskapai penerbangan Sriwijaya dalam diskusi di Kopi Oey, Sabang, Jakarta Pusat, Senin, 30 September 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengumumkan bahwa maskapai Sriwijaya Air tidak lagi menjadi bagian dari grupnya. Dengan demikian, Direktur Perawatan dan Pelayanan Garuda Indonesia Iwan Joeniarto menjelaskan, Sriwijaya akan melanjutkan bisnisnya sendiri.

    "Hubungan antara Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Group akan dilanjutkan secara business to business," kata Iwan dalam keterangan tertulis yang beredar, Kamis, 7 November 2019.

    Setelah keterangan ini beredar, VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan belum mengangkat telepon dari Tempo untuk ditanyai hal tersebut.

    Pecah kongsi PT Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia diawali dari tidak akurnya hubungan maskapai milik kelluarga Lie itu dengan dan PT Citilink Indonesia, anak usaha Garuda. Keduanya kembali tidak akur karena adanya sejumlah masalah yang membuat keduanya memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama operasi.

    “Kami merujuk pada status terkini kerja sama manajemen antara Sriwijaya dan Citilink, anak usaha Garuda Indonesia. Karena ada sejumlah masalah di mana kedua pihak belum bisa selesaikan. Dengan berat hati, kami menginformasikan bahwa Sriwijaya melanjutkan bisnisnya sendiri,” kata Iwan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.