Kemendag: Kalau Angkat Kaki dari Perjanjian RCEP, India Rugi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan (Kemendag) Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengatakan India bakal merugi kalau tidak menyepakati perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership atau RCEP yang mencakup ASEAN plus enam negara.

    "India (yang rugi). Kita kan sudah punya perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan India jadi enggak begitu khawatir," ujar Iman di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu, 6 November 2019. Kendati demikian, tak masuknya India membuat perluasan rantai pasok ke sana tidak bisa dilakukan. Padahal inti dari perjanjian RCEP adalah pendalaman dan perluasan rantai pasok.

    Sebelumnya, perjanjian itu dinyatakan telah selesai oleh 15 negara. Namun kesepakatan itu masih menunggu persetujuan dari India. Negara itu diakui Iman masih hati-hati dan akan mengkonsultasikan dengan pemerintahan di dalam negerinya.

    “Kalau di joint statement dari 16 negara, 15 sudah menyatakan selesai. Apa yang dirundingkan dinyatakan selesai, India ada di working group tadi. Tapi setelah dibawa ke New Delhi, mereka katakan ada hal-hal yang masih sulit diterima. Jadi kami pikir akan dibawa ke domestik India,” kata Iman, dikutip dari setkab.go.id, Selasa, 5 November 2019.

    Untuk itu, Iman mengatakan perlu mengklarifikasikan hal tersebut dengan India. "Selama nego berlangsung India kan juga ada di tempat, 20 chapter semua sudah diselesaikan," kata dia.

    Kendati demikian, ia mengetahui bahwa India kesulitan lantaran tekanan dari dalam negeri dan mereka belum bisa bergabung kalau isu yang diusungnya belum ditampung. "Tapi sampai sekarang kira enggak tahu persisnya concern mereka yang mana, mereka juga selaku ada dalam perundingan, enggak ada rahasia-rahasia, enggak 15 negara berunding sendiri tanpa India."

    Setelah tujuh tahun negosiasi berat yang dilakukan oleh setiap anggota RCEP, ia mengatakan setiap negara lainnya pasti akan membatu kalau bisa. Sehingga ia meminta India untuk terbuka dan memberi tahu masalah yang terjadi. Hingga saat ini Iman mengatakan peserta perundingan RCEP masih menunggu India mengumumkan secara resmi sikapnya.

    Iman yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Perundingan RCEP merinci negara yang sudah menyelesaikan perundingan soal RCEP yang kemudian disampaikan dalam joint statement itu adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Jepang, China, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

    Para utusan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-3 RCEP, lanjut Iman, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Indonesia selaku koordinator perundingan atas selesainya perundingan yang mencakup 20 bab itu.

    “Kemarin kita bertemu sampai lewat tengah malam dan 20 bab selesai, tinggal teruskan perundingan tentang akses pasar, mungkin yang cukup berat 3%-an,” kata Iman.

    Komitmen Bersama Sementara itu, dibacakan pada penutupan RCEP Summit itu disebutkan adanya komitmen dari 16 negara untuk mencapai perjanjian kemitraan ekonomi yang modern, komprehensif, berkualitas tinggi, dan saling menguntungkan.

    “Dengan latar belakang adanya lingkungan global berubah dengan cepat, penyelesaian negosiasi RCEP akan menunjukkan komitmen bersama kita terhadap perdagangan dan investasi terbuka di seluruh kawasan,” bunyi pernyataan bersama itu.

    CAESAR AKBAR | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.