Lembaga Riset AS Tuding Data PDB Dimanipulasi, Respons BPS?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, Senin 16 Oktober 2017. TEMPO/M. Julnis Firmansyah

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, Senin 16 Oktober 2017. TEMPO/M. Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS, Suhariyanto, mengatakan, bahwa dalam menghitung pertumbuhan ekonomi lembaganya selalu mengacu pada manual perhitungan dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam menghitung, BPS juga diawasi oleh forum masyarakat statistik.

    Selain itu, kata Suhariyanto, perhitungan PDB tersebut juga dimonitor oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Setiap tahun, tim IMF selalu datang untuk meninjau langsung perhitungan yang dilakukan oleh BPS.

    "Dan selama lima tahun berturut-turut, kami dapat statetment bahwa data PDB akurat. Sekarang betul nggak bahwa kita stable? Nggak juga, dari 5,17 persen ke 5,02 persen kan turunnya tajam," kata Suhariyanto saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa, 5 November 2019.

    Pernyataan Suhariyanto itu membantah pernyataan yang sebelumnya dikeluarkan oleh sebuah lembaga riset asal Amerika Serikat (AS) bernama Capital Economics. Lembaga tersebut menilai bahwa data yang dikeluarkan oleh BPS mencurigakan.

    Menurut Capital Economics, pertumbuhan PDB Indonesia secara mencurigakan tumbuh stabil pada kisaran 5 persen selama lima tahun terakhir. Karenanya, tidak mengejutkan kalau Indonesia kembali tumbuh di kisaran yang sama sepanjang triwulan III tahun ini.

    "Menurut tim pemantau perekonomian kami, seharusnya ekonomi Indonesia tumbuh dalam laju yang lebih lambat," seperti dikutip dalam pernyataan Capital Economics melalui laman resminya.

    Menurut Suhariyanto perhitungan PDB terkait pertumbuhan ekonomi saat ini sudah sangat valid. Sebabnya, dalam menghitung PDB, BPS mengikuti semua manual yang mesti dihitung mulai dari konsumsi, inflasi, investasi hingga ekspor dan impor.

    Selain itu, data-data yang digunakan oleh BPS sebagian besar merupakan data realisasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah langsung. Misalnya, data terkait konsumsi atau belanja pemerintah, yang didapat langsung dari Menteri Keuangan.

    "Saya tunjukkan clear. Misalnya kalau dikumpulkan data sebelumnya, bahwa impor mesin dan perlengkapan itu kan turun dalem banget. Ekonominya berarti gak paham dia. Siapa yang ngomong?," ujar Suhariyanto yang akrab disapa Kecuk ini.

    Oleh karena itu , Suhariyanto mengatakan BPS tak akan melakukan memanipulasi data. Sebab, jika hal itu benar dilakukan maka, hal itu berbahaya bukan hanya bagi kredibilitas BPS tetapi juga negara. Jika terbukti, maka negara dan lembaga tersebut tak akan lagi mendapatkan kepercayaan dari dunia internasional.

    "Kalau saya sampai melakukan sesuatu, akan ketemu oleh IMF, dan kalau itu terjadi, yang malu bukan hanya BPS, tapi juga kredibilitas dari negara. Karena satu angka nggak dipercaya, menjadi nggak ada trust. Saya tidak akan membiarkan itu," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?