Menteri Edhy Lepaskan 50 Ribu Ikan Nilem di Sumatera Selatan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo tiba di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta Pusat. Ia secara mendadak dipanggil oleh Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada Selasa sore, 29 Oktober 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo tiba di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta Pusat. Ia secara mendadak dipanggil oleh Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada Selasa sore, 29 Oktober 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam kunjungan kerjanya di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) Senin, 4 November 2019, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo usai menghadiri rangkaian acara menjelang peringatan Hari Nusantara XIX yang diselenggarakan pemerintah Provinsi Sumsel, dirinya melakukan pelepasan 50 ribu ekor ikan nilem ke Waduk GOR Jakabaring.

    "Kita melepas sebanyak 50 ribu benih nilem. Ikan nilem adalah ikan asli di perairan Sumatera Selatan. Diharapkan dengan pelepasliaran ini ikan lokal kita dapat terus terjaga," kata Edhy melalui keterangan tertulis, Selasa 5 November 2019

    Edhy menambahkan, dirinya berharap berbagai jenis ikan lokal, baik yang air tawar, air payau, maupun air laut dapat dikembangkan dengan kegiatan budidaya. Hal ini senada dengan program nasional pemerintah untuk meningkatkan perikanan budidaya.

    "Budidaya ini menghasilkan devisa dan kita masih banyak ceruk untuk melakukan ini. Masih banyak yang bisa kita buat untuk negara agar menghasilkan lapangan pekerjaan dan yang paling penting tambahan penghasilan bagi masyarakat," ungkapnya

    Edhy mengungkapkan, dalam jangka panjang, kegiatan budidaya ikan juga dinilai ampuh untuk mengatasi persoalan stunting atau hambatan pertumbuhan tubuh dengan menyediakan banyak ikan untuk dikonsumsi.

    Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto menyebut, restocking ikan ini dilakukan dalam rangka memperkaya kembali plasma nutfah yang ada di perairan umum, terutama ikan-ikan asli daerah. Menurutnya, ikan nilem saat ini keberadaannya di alam sudah mulai terancam.

    Selain itu, Slamet menambahkan, pelepasan tersebut dilakukan dalam rangka menjaga lingkungan perairan, karena ikan nilem merupakan pemakan plankton. Sebagaimana diketahui, keberadaan plankton memang mengindikasikan kesuburan perairan. Namun, menurut Slamet, jika plankton terlalu banyak dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

    "Ikan ini merupakan plankton feeder sehingga bisa mempertahankan atau bisa menstabilkan air terkait dengan kesuburan perairannya. Jadi diharapkan tidak ada blooming plankton. Kalau ada blooming plankton nanti itu berbahaya pada saat ada upwelling, menyebabkan ikan-ikan mati," tambahnya.

    Ikan yang dilepas juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan pemenuhan gizi masyarakat. "Harapannya ikan nilem ini nantinya beranak-pinak di situ, kemudian banyak masyarakat bisa mengambil ikannya untuk sumber protein dan juga kalau dijual jadi sumber pendapatan masyarakat," ucap Slamet.

    Dia menjelaskan, pada dasarnya ada dua sasaran peningkatan budidaya ikan. Pertama, penyediaan produk-produk perikanan untuk diekspor. Kedua, menyediakan bahan makanan untuk ketahanan pangan.

    Sumatera Selatan adalah daerah dengan konsumsi ikan yang cukup tinggi. Daerah ini sudah terbiasa dengan kegiatan budidaya ikan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.