Tumbuh Melambat, Penerimaan Cukai Tembus Rp 158,7 Triliun

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dirjen Bea Cukai saat melakukan klarifikasi penyimpangan reekspor limbah.

    Dirjen Bea Cukai saat melakukan klarifikasi penyimpangan reekspor limbah.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Keuangan mencatat hingga 31 Oktober 2019 total penerimaan dari sektor bea dan cukai menembus angka Rp 158,7 triliun. Angka ini setara dengan 76 persen dari target sampai akhir tahun yang mencapai Rp 208,8 triliun.

    Realisasi penerimaan bea dan cukai tersebut tumbuh 9,9 persen dibandingkan dengan realiasi pada periode yang sama 2018 sebesar Rp 144,3 triliun. Kendati penerimaan melonjak, pertumbuhan penerimaan bea dan cukai tercatat melambat.

    "Memang yang mengalami penurunan itu bea masuk dan bea keluar. Terutama bea keluar karena ada kondisi terjadi perang dagang," ujar Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi kepada awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Senin 4 November 2019.

    Kementerian Keuangan mencatat, bea masuk menembus angka Rp30,3 triliun hingga 31 Oktober 2019. Jumlah ini setara 77,9 persen dari target sebesar Rp 38,8 triliun. Realisasi itu mengalami penurunan 4,8 peren dari periode yang sama 2018 sebesar Rp 32,2 triliun.

    Sedangkan, dari pos bea keluar, realisasi sampai dengan 31 Oktober 2019 mencapai Rp 2,8 triliun atau 65,2 persen dari target Rp 4,4 triliun sepanjang 2019. Jumlah ini menurun hingga 48,4 persen dari periode yang sama 2018 yang sebesar Rp5,6 triliun.

    Adapun untuk penerimaan pos cukai tercatat mencapai Rp 125,5 triliun hingga 31 Oktober 2019. Jumlah ini setara dengan 75,8 persen dari target Rp 165,5 triliun tahun ini. Realisasi ini tumbuh 18 persen dari realisasi di periode yang sama 2018 yang mampu mencapai sebesar Rp 106,3 triliun.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengungkapkan bahwa penerimaan negara dari sisi bea dan cukai melambat. Pelambatan tersebut terjadi sejalan dengan ekonomi dunia dan perdagangan internasional yang melambat.

    Mengutip International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi tinggal menyisakan angka 3 persen. Angka ini terus direvisi ke bawah dari awal tahun 2018 yang diperkirakan mulai dari angka 3,7 persen.

    Perlambatan ekonomi dunia juga sejalan dengan perlambatan ekonomi di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Cina dan juga Jerman. Akibatnya, diperkirakan volume perdagangan dunia hanya tinggal menyisakan 1,1 persen.

    "Perdagangan internasional yang lemah maka kinerja bea dan cukai juga mengalami pengaruh akibat sejumlah lapangan usaha yang ikut mengalami kontraksi," kata Sri Mulyani saat mengelar rapat kerja dengan Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.