Global Melemah, Sri Mulyani Sebut RI Terkena 2 Pukulan Telak

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mendatangi pusat logistik berikat (PLB) Dunia Express Sunter, Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2019. Sri Mulyani menjelaskan, kunjungan ini berkaitan kabar yang menyebut bahwa PLB menjadi celah kebocoran impor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang membuat Indonesia banjir tekstil impor.Tempo/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mendatangi pusat logistik berikat (PLB) Dunia Express Sunter, Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2019. Sri Mulyani menjelaskan, kunjungan ini berkaitan kabar yang menyebut bahwa PLB menjadi celah kebocoran impor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang membuat Indonesia banjir tekstil impor.Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa Indonesia mengalami dua pukulan sepanjang 2019 akibat pelemahan ekonomi dunia. Dua pukulan telak tersebut terjadi akibat harga komoditas yang melemah dan volume perdagangan yang menurun.

    Menurut Sri Mulyani, harga komoditas melemah yang dikombinasikan dengan volume menurun itu, diakibatkan oleh permintaan pasar ekspor yang lesu. Hal tersebut berimbas pada kondisi current account deficit (defisit transaksi berjalan) juga menjadi melebar.

    "Current Account Deficit itu dipengaruhi destinasi market, dikombinasikan harga yang lemah makanya kita alami dua kali pukulan. Harga lebih rendah, volume turun," kata Sri Mulyani Indrawati saat menggelar rapat bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Selatan, Senin 4 November 2010.

    Mengutip International Monetary Fund (IMF), kata Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi tinggal menyisakan angka 3 persen. Angka ini terus direvisi ke bawah dari awal tahun 2018 yang diperkirakan mulai dari angka 3,7 persen.

    Pelambatan ekonomi dunia tersebut diikuti dengan pelambatan ekonomi domestik di sejumlah negara maju mulai dari Amerika Serikat (AS), Cina dan juga Jerman. Karena itu, diperkirakan volume perdagangan dunia diperkirakan hanya tinggal menyisakan angka 1,1 persen.

    "Pertumbuhan volume perdagangan dunia yang hanya 1,1 persen, ini merupakan pertumbuhan dagang yang paling lemah sejak 10 tahun yang lalu," kata Sri Mulyani.

    Selain itu, ke depan, Sri Mulyani juga menyebut bahwa risiko global masih perlu diwaspadai. Salah satunya, terkait perang dagang antara AS dan Cina. Hal ini akan terus meningkatkan ketidakpastian bagi global dan bagi perekonomian domestik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.