Raja NTT Gugat Lahan Bendungan Temef Senilai Rp 312 Miliar

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengerjakan pintu air saluran irigasi di Bendung Baliase, Baliase, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Kamis 10 Januari 2019. Bendung Baliase merupakan salah satu proyek strategis nasional untuk mendukung sektor pertanian di Sulawesi Selatan yang mampu mengairi 22 ribu hektar sawah dengan total biaya pembangunannya mencapai Rp 1,3 triliun dan diharapkan dapat beroperasi pada tahun ini. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang

    Pekerja mengerjakan pintu air saluran irigasi di Bendung Baliase, Baliase, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Kamis 10 Januari 2019. Bendung Baliase merupakan salah satu proyek strategis nasional untuk mendukung sektor pertanian di Sulawesi Selatan yang mampu mengairi 22 ribu hektar sawah dengan total biaya pembangunannya mencapai Rp 1,3 triliun dan diharapkan dapat beroperasi pada tahun ini. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang

    TEMPO.CO, Kupang - Fransiskus Mella, salah satu vetor atau raja di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) menggugat lahan yang digunakan untuk membangun Bendungan Temef. Ia menuntut ganti rugi senilai Rp 312,3 miliar untuk lahan seluas 312,3 hektare yang diklaim miliknya itu.
     
    "Sudah ada gugatan ke berbagai pihak, termasuk Gubernur NTT," kata Kepala Biro Hukum NTT, Alex Lumba kepada Tempo, Senin, 4 November 2019.
     
    Bendungan Temef, merupakan salah satu dari tujuh proyek infrastruktur berupa bendungan yang dibangun di NTT oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di periode I pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Enam lainnya yakni Bendungan Raknamo, Napunggete, Rotiklot, Manikin, Nagekeo dan Kolhua. 
     
    Kepala Biro Hukum NTT menilai gugatan yang diajukan Fransiskus tidak kuat, karena pemerintah telah memberikan ganti rugi atas pembebasan lahan pembangunan Bendungan Temef itu. "Dia klaim itu lahannya. Padahal, masyarakat setempat tak mengenal dia," ujar Alex Lumba.
     
    Pihaknya juga telah coba melakukan mediasi dengan Fransiskus, namun gagal. Sehingga proses selanjutnya melalui persidangan di Pengadilan Negeri So'e. "Mediasi gagal, sehingga sidang dilanjutkan," kata Alex.
     
    Sementara itu, konsultan pengawas Bendungan Temef, Sudadi mengatakan hingga saat ini progres fisik pembangunan Bendungan Temef telah mencapai 35 persen. "Progres saat ini telah mencapai target," katanya.
     
    Dia mengakui ada kendala di lapangan, seperti longsor dari tebing bukit, serta musim hujan yang menyebabkan banjir. Namun dia mengaku telah siap menghadapi musim hujan tahun ini. 
     
    "Antisipasi banjir, kami sudah siap. Stok material sudah cukup banyak dan aman. Tempat-tempat  produksi sudah di tempat aman," kata Sudadi.
     
    Pantauan wartawan, proyek infrastruktur Bendungan Temef ini menggunakan bahan peledak (Dinamit) untuk meledakkan lereng bukit. Kemudian, serpihan tanah yang timbul dari ledakan itu diambil, untuk ditimbun di areal bendungan. "Baru 10 kali kami lakukan ledakan, sehingga baru dapat seribu kubik," Sudadi menjelaskan.
     
    Menurut Sudadi, untuk pembangunan Bendungan Temef dibutuhkan tanah sebanyak 1,3 juta kubik. "Sehingga masih butuh banyak dinamit untuk ledakan tebing Temef."
     
    YOHANES SEO

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.