Lion Air Tuntut Kompensasi ke Boeing Terkait Pesawat B737 MAX 8

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Boeing 737 MAX 8 Lion Air Thai [Business Insider]

    Boeing 737 MAX 8 Lion Air Thai [Business Insider]

    TEMPO.CO,  TANGERANG - Lion Air Group telah merinci beberapa poin kerugian yang akan diajukan kepada Boeing atas B737 MAX 8 yang dilarang terbang atau grounded sejak Maret 2019. 

    Managing Director Lion Air Group Daniel Putut mengatakan telah berkomunikasi intensif dengan pabrikan pesawat asal Amerika Serikat tersebut. Adapun, saat ini terdapat 10 unit pesawat B737 MAX 8 yang masih dikandangkan.

    "Kami sudah hitung dan sudah disampaikan juga kepada pihak Boeing. Mereka sudah berniat baik memberikan kompensasi," kata Daniel, Jumat 1 November 2019.

    Dia memerinci beberapa poin kerugian mencakup biaya pelatihan set kru, biaya perawatan selama pesawat berada di hanggar, kehilangan pendapatan, dan kehilangan laba. Kesepuluh pesawat tersebut sebelumnya digunakan untuk melayani rute domestik maupun internasional.

    Daniel menuturkan kompensasi yang akan diklaim akan terus bertambah karena dihitung sejak Maret 2019 hingga regulator menyatakan pesawat sudah layak untuk kembali beroperasi (return to service).

    Daniel mengaku tidak bisa menyampaikan perhitungan klaim yang akan dikompensasikan kepada publik. "Tidak bisa saya sampaikan di sini, tetapi komunikasi dengan Boeing berjalan lancar."

    Maskapai dengan logo kepala singa bersayap tersebut juga berkomitmen untuk melaksanakan rekomendasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait dengan laporan final hasil investigasi kecelakaan JT-610 dalam waktu 3 bulan ke depan.

    Adapun, ketiga rekomendasi tersebut adalah terkait dengan prosedur operasi standar kelaikudaraan dan operasional penerbangan, sistem manajemen keselamatan, dan pelatihan mengenai prosedur keselamatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.