Pelindo III Lanjutkan Pembangunan Pelabuhan Benoa

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pelabuhan Benoa di Denpasar, Bali, yang akan menjadi lokasi sandar kapal pesiar Pacific Eden, 13 April 2017. TEMPO/Yohanes Paskalis

    Suasana pelabuhan Benoa di Denpasar, Bali, yang akan menjadi lokasi sandar kapal pesiar Pacific Eden, 13 April 2017. TEMPO/Yohanes Paskalis

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bali I Wayan Koster telah menerima keputusan penataan ulang Pelabuhan Benoa, Bali, yang beberapa waktu lalu sempat menimbulkan masalah berkepanjangan. Keputusan itu diterima karena sudah banyak aspirasi dan kebutuhan masyarakat Pulau Dewata yang terserap.

    Wayan menjelaskan, penataan ulang Pelabuhan Beno sudah melalui proses yang panjang. "Sampai empat kali perubahan sampai dengan desain final. Perubahan desain ini saya yang mengawal langsung, sehingga menampung kebutuhan dan aspirasi masyarakat Bali. Termasuk penyediaan lapangan khusus untuk upacara keagamaan seluas satu hektare," kata dia melalui pernyataan tertulis, Sabtu, 2 November 2019.

    Dengan telah dicapai kesepakatan tersebut, Pelindo III akan segera melanjutkan pengerjaan berdasarkan desain yang baru, dan seluruhnya akan selesai pada tahun 2023. Wayan pun meminta kepada Pelindo III agar lapangan upacara Melasti sudah dapat diselesaikan pada akhir Februari 2020.

    Dengan begitu, areal itu dapat digunakan sebagai tempat upacara peringatan Nyepi pada tahun tersebut. Ia juga bersyukur bahwa Pelindo III sangat kooperatif melaksanakan arahan dirinya dan masukan dari masyarakat Bali.

    Sementara itu, Direktur Utama Pelindo III (Persero) Doso Agung mengatakan telah menerima masukan dan usulan dari banyak pihak. Berbagai masukan itu datang dari Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar, kelompok-kelompok masyarakat, sehingga konsep awal desain Dumping I dan Dumping II Pelabuhan Benoa kini berubah total.

    Doso menuturkan, dalam desain baru penataan ulang Pelabuhan Benoa, sebagian besar lahan akan diperuntukkan bagi hutan kota, sedangkan sebagian lain diperuntukkan bagi kawasan pengelolaan energi, industri perikanan, dan instalasi IPAL. "Kawasan hutan kota akan menjadi salah satu paru-paru Bali, sedangkan sebagian lagi diperuntukkan bagi terminal energi, yang menyuplai kebutuhan avtur untuk Bandara Ngurah Rai dan BBM di Pelabuhan Benoa,” katanya.

    Hal tersebut tertuang dalam rapat koordinasi antara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar, dan Pelindo III di Denpasar, 2 November 2019.

    Dalam desain yang baru, PT Pelindo III membangun terminal di Dumping I dan Dumping II seluas kurang lebih 70 hektare. Seluas 51 persen lahan di antaranya telah selesai direklamasi atau 13 hektare di Dumping I dan 23 hektare di Dumping II akan ditanami berbagai jenis pohon seperti cemara udang, jempiring, cemara laut, sawo kecik, kelapa gading, asoka, dan sebagainya. Sementara sisa 49 persen lahan akan dimanfaatkan untuk membangun dermaga perikanan, cold storage, fasilitas IPAL, dan sebagainya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.