Bisnis Properti Kelas Menengah ke Bawah di Batam Lesu

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Nongsa Digital Park, industri kreatif berbasis digital di Jalan Hang Likeu Batam, Kepulauan Riau. TEMPO/Ijar Karim

    Gedung Nongsa Digital Park, industri kreatif berbasis digital di Jalan Hang Likeu Batam, Kepulauan Riau. TEMPO/Ijar Karim

    TEMPO.CO, Batam - Bisnis properti di Batam ikut lesu darah seiring meredupnya industri di kota itu. Merosotnya sektor properti itu terutama dirasakan untuk kelas menengah ke bawah.

    Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Kepri Ruslan Weng mengatakan, faktor utama menurunnya bisnis properti adalah karena industri di Kota Batam cukup terpukul. 
    "Galangan kapal sepi, begitulah Kota Batam saat ini," kata Ruslan kepada Tempo.

    Namun, sebaliknya, pembelian properti untuk kalangan menengah ke atas justru meningkat. Pembelian banyak dilakukan oleh orang yang berada di luar Kota Batam, seperti Tanjungpinang, Pekanbaru, Jawa dan lainnya. "Mereka berbondong, ingin investasi di sini, menjadikan Batam second home," kata Ruslan.

    Ruslan melihat, tren di mana orang bisa bekerja dari rumah merupakan salah satu faktor yang membuat orang membeli rumah di Batam. Karena dari kota ini mereka bisa mengawasi pekerjaan.

    "Kalau dulu yang bisa beli rumah konglomerat, sekarang orang kayak nggak perlu konglomerat sudah bisa beli apartemen di Batam," kata dia.

    Selain itu, mahalnya rumah di Singapura dan Johor yang berdekatan dengan Batam juga menjadi faktor banyaknya kelas menengah ke atas membeli rumah di Batam. Tak heran jika sektor bisnis properti kelas atas justru cerah. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?