Sepekan Kabinet Baru Jokowi, Aliran Modal Asing Masuk Rp 4,56 T

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai memberikan key note speech dalam acara Simposium Asia's Trade and Economic Priorities 2020, di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Selasa 29 Oktober 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai memberikan key note speech dalam acara Simposium Asia's Trade and Economic Priorities 2020, di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Selasa 29 Oktober 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan aliran modal asing masuk ke Indonesia selama sepekan terakhir hingga 31 Oktober 2019 mencapai Rp 4,56 triliun. Dia menilai aliran modal yang masuk ke Indonesia ini menunjukkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi dan kepemimpinan yang ada di Indonesia.

    "Presiden dan menteri-menterinya," kata Perry saat ditemui di Gedung BI, Jakarta Pusat, Jumat, 1 November 2019.

    Momentum ini bertepatan dengan kurang lebih seminggu masa kerja Kabinet Indonesia Maju pada pemerintahan kedua Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Kabinet ini dilantik pada Rabu, 23 Oktober 2019. 

    Aliran modal asing yang masuk terdiri dari Rp 4,45 triliun ke surat utang pemerintah alias Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 110 miliar ke obligasi korporasi.

    “Tapi untuk saham, terjadi outflow (aliran modal keluar) Rp 0,19 triliun,” kata Perry. 

    Sementara jika dilihat pada keseluruhan tahun, aliran modal asing yang masuk ke Indonesia hingga 31 Oktober 2019 mencapai Rp 217,04 triliun. Jumlah ini terdiri dari Rp 165,2 triliun ke obligasi pemerintah atau SBN, Rp 49,78 triliun ke saham, dan sebagian kecil atau Rp 2,06 triliun ke obligasi korporasi.

    FAJAR PERBIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?