Bank Dunia Beri Dana Hibah Rp 2 Triliun untuk Bekasi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis PETA berlumuran cairan slime hitam dalam aksi protes di luar venue London Fashion Week di London, Inggris, Jumat, 13 September 2019. Cairan hitam itu sebagai simbol limbah berbahaya yang terkait dengan industri kulit. REUTERS/Henry Nicholls

    Aktivis PETA berlumuran cairan slime hitam dalam aksi protes di luar venue London Fashion Week di London, Inggris, Jumat, 13 September 2019. Cairan hitam itu sebagai simbol limbah berbahaya yang terkait dengan industri kulit. REUTERS/Henry Nicholls

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, akan menerima dana hibah dari Bank Dunia sekitar Rp 2 triliun untuk pembangunan instalasi pengolahan air limbah domestik terpusat pada 2020.

    "Ada tiga kota di Indonesia yang terpilih yaitu Kota Bekasi, Aceh, dan Mataram dengan total bantuan sebesar Rp 5 triliun," kata Sekretaris Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pertanahan Kota Bekasi Imas Amsiah di Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 31 Oktober 2019.

    Imas mengatakan bantuan akan dibagi sesuai dengan kebutuhan kota masing-masing dalam membangun sistem pengolahan air limbah domestik terpusat.

    Dia mengatakan dana hibah sebesar Rp 2 triliun itu akan digunakan untuk membangun instalasi pengolahan air limbah domestik terpusat (IPLT) di empat titik.

    "DED (detail engineering design) sudah kami siapkan. Empat titik itu ada di Rawa Pasung Bekasi Barat, Lapangan Multiguna Bekasi Timur, Rusunawa Bekasi Timur, dan Duta Harapan Bekasi Utara. Lahannya sudah PSU dan untuk luasnya nanti menyesuaikan," ujarnya.

    Empat lahan tersebut dipilih dengan berbagai pertimbangan. Pihaknya telah melakukan riset elevasi atau kemiringan tanah dan juga sesuai dengan kebutuhan jumlah penduduk.

    Imas menjelaskan sistem pengolahan air limbah ini nantinya dapat menjangkau seluruh limbah domestik yang ada di Kota Bekasi baik dari rumah tangga, hotel, apartemen, restoran, maupun usaha menengah ke bawah.

    Menurut dia, dalam temuannya nyaris seluruh restoran yang ada di Kota Bekasi belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sehingga banyak mencemari lingkungan terutama sungai-sungai yang ada di wilayahnya.

    "Berdasarkan data tahun 2018, masih terdapat 6.600 warga Kota Bekasi yang belum memiliki tangki septik dengan Standar Nasional Indonesia (SNI)," kata dia.

    Dengan dibangunnya IPLT ini, ia meyakini mampu mengentaskan pencemaran lingkungan dari limbah domestik yang selama ini menghantui lingkungan masyarakat.

    "Daya tampung satu IPLT yang akan dibangun ini dapat mengcakup 30 ribu rumah warga, termasuk restoran, apartemen, dan hotel. Di Kota Bekasi jumlah bangunan rumah penduduk terdapat sekitar 900 ribu lebih," kata Imas.

    Kepala UPTD Pengolahan Air Limbah Disperkimtan Kota Bekasi Andrea Sucipto menambahkan pembangunan empat IPLT di Kota Bekasi itu dimulai pada 2020 mendatang.

    "Jadi, pada tahun 2021 ditargetkan sudah beroperasi, ini kegiatan maraton. Dalam waktu dekat ini ada proses lelang konstruksi oleh kementerian. Nanti, jasa konstruksi itu sekaligus membuat desain dan mengoperasionalkannya," katanya.

    Dia memastikan tidak ada dampak lingkungan bagi masyarakat sekitar dengan dibangunnya IPLT. "Dampaknya tidak ada, kualitas air tanah tidak berdampak, dan bau juga tidak. Buktinya sudah ada dengan kami membangun sejumlah IPAL komunal di sejumlah titik," kata Andrea.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?