Sri Mulyani ke CEO: Ekonomi Dunia Melambat, Jangan Ikut Gloomy

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. Sri Mulyani kembali dipercaya Presiden Jokowi sebagai Menkeu dalam Kabinet Indonesia Maju. Ini menjadi kali ketiga dirinya menjabat sebagai Menkeu.TEMPO/Subekti

    Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. Sri Mulyani kembali dipercaya Presiden Jokowi sebagai Menkeu dalam Kabinet Indonesia Maju. Ini menjadi kali ketiga dirinya menjabat sebagai Menkeu.TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tak membantah bahwa ekonomi dunia ke depan diprediksi akan mengalami pelambatan. Meski begitu, dia meminta supaya para pemimpin perusahaan atau Chief Executive Officer (CEO) untuk tak larut dalam psikologi kondisi pasar tersebut.

    "Jangan ikut gloomy karena sekarang ini psikologis driven witnesses terutama di level global. Apalagi, kita bisa menjaga pertumbuhan sekitar 5 persen, artinya Indonesia punya kemampuan menjaga ekonomi kita cukup besar," kata dia dalam acara CEO Networking 2019, di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta Selatan, Kamis 31 Oktober 2019.

    Menurut dia, kondisi global yang tengah suram tersebut terimbas ekspektasi negatif atas ketidakpastian global lebih banyak disebabkan perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina. Ketidakpastian yang semakin tinggi juga disebabkan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

    Sebab, Amerika Serikat yang sebelumnya dinilai sebagai negara yang terbuka dengan perdagangan global, justru menjadi sangat proteksionis. Kondisi itulah yang disebut Sri Mulyani ikut mempengaruhi psikologis pasar di level global sehingga terlihat suram.

    Karena itu, lanjut dia, tak heran jika Bank Dunia bahkan merevisi hingga 4 kali pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,9 persen hanya menjadi 3 persen. Dengan kondisi itu, mau tidak mau pasti akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

    Kendati demikian, saat ini ekonomi dunia terbukti masih bertahan dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Belum lagi Indonesia masih dianggap memiliki daya tarik ekonomi karena terdapat potensi pasar yang besar dengan jumlah penduduk mencapai 260 juta.

    "Otoritas keuangan sadar akan tantangan ini, dan kami ingin berikan sinyal bahwa 5 persen adalah potensi yang besar. Karena itu kami ingin menjaga permintaan domestik tetap tumbuh dengan stimulus dan counter cyclical," kata Sri Mulyani.

    DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.