Lengser dari Kabinet,Jonan dan Arcandra Plesir Bareng Naik Kereta

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ignasius Jonan, Direktur Utama PT Kereta Api IndonesiaDinilai telah merombak kultur perusahaan yang semula lamban dan melempem. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sudaryatmo, sangat mengapresiasi upaya Jonan menata ulang bisnis transportasi yang paling dekat dengan publik ini. Sebagai pengguna kereta Commuter Jabodetabek, Sudaryatmo ikut merasakan perubahan itu.

    Ignasius Jonan, Direktur Utama PT Kereta Api IndonesiaDinilai telah merombak kultur perusahaan yang semula lamban dan melempem. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sudaryatmo, sangat mengapresiasi upaya Jonan menata ulang bisnis transportasi yang paling dekat dengan publik ini. Sebagai pengguna kereta Commuter Jabodetabek, Sudaryatmo ikut merasakan perubahan itu. "Belum sempurna, tapi sudah jauh lebih baik." TEMPO/Jacky Rachmansyah

    Foto itu menuai reaksi dari pengikutnya. Belum 24 jam diunggah, foto ini sudah disukai oleh 3.000 lebih pengguna akun Instagram.

    Seratusan orang pun berkomentar. "Bernostalgia dengan ular besi, sungguh terasa nikmat," tutur @mf_cc206. Komentar itu merujuk pada jabatan Jonan. Sebelum menduduki kursi menteri, ia memang sempat menjabat sebagai orang nomor satu di PT KAI (Persero).

    Saat menggawangi PT KAI, Jonan berhasil merevolusi sistem pembelian tiket dan merombak bisnis kereta api habis-habisan. Moncernya Jonan di KAI dilirik Jokowi. Pada 2014 lalu, Jokowi meminta Jonan menjadi Menteri Perhubungan. Namun pada 2016, ia di-reshuffle dan dipindahkan ke Kementerian ESDM.

    Akun lain berkomentar meminta Jonan kembali ke PT KAI. "Ditunggu banyak railfans Pak buat balik ke KAI," tulis @rznksmzdny.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.