Pertumbuhan Ekonomi Lesu, Sri Mulyani Perkuat Instrumen Fiskal

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi pembina upacara pada peringatan ke-73 Hari Oeang di kompleks Kementerian Keuangan, Rabu, 30 Oktober 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi pembina upacara pada peringatan ke-73 Hari Oeang di kompleks Kementerian Keuangan, Rabu, 30 Oktober 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah terus berupaya mendorong pertumbuhan baru di sektor ekonomi di tengah pelemahan global. Ia menyebut ada banyak cara mendorong pertumbuhan ekonomi, salah satunya memperkuat instrumen fiskal untuk prioritas pembangunan.

    "Misalnya kita ingin mengembangkan industri manufaktur, ya kita akan tingkatkan competitiveness sumber daya manusia dari berbagai aspek," ujar dia di kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu, 30 Oktober 2019.

    Dia menyatakan berbagai program menyangkut pengembangan SDM, pengentasan kemiskinan, pendidikan, ketenagakerjaan, dan pemerataan menjadi isu penting dalam pemerintahan periode kali ini. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu melanjutkan, selain mengerek kualitas SDM, masalah efisiensi regulasi perlu memperoleh perhatian.

    Efisiensi tersebut penting dilakukan untuk mendorong investasi masuk. Selain itu, kebijakan ini berguna untuk meningkatkan indeks daya saing Indonesia di kancah global.

    "Sehingga ini perlu mendapatkan dukungan dari instrumen kebijakan fiskal serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," ucapnya.

    World Bank atau Bank Dunia belakangan ini mengoreksi proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun depan. Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan dari 5,2 persen menjadi 5 persen.

    Adapun ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2019 berada di bawah angka 5 persen. Perkiraan ini didasarkan sejumlah faktor seperti melebarnya defisit neraca dagang dan masih terkena dampak harga komoditas yang belum membaik.

    Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah Redjalam memperkirakan pada triwulan III 2019, ekonomi Indonesia tumbuh 4,95 sampai 5,25 persen. Dia meramal, laju pertumbuhan tak akan berada di bawah angka 4,9 persen.

    "Kalau di Core, kami perkirakan pertumbuhan ekonomi akan ada pada kisaran 5 persen, antara 4,95 persen sampai 5,25 persen. Tapi memang most likely ada kemungkinan di bawah 5, tapi ngga sampai 4,9 persen, tapi sedikit di atas itu," kata Piter pertengahan Oktober lalu.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | DIAS PRASONGKO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.