Hitung Valuasi Aset, Erick Thohir Beri Waktu Aramco 2 Bulan

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kartu Identitas Erick Thohir sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara telah disiapkan di Kantor BUMN, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. Tempo/Caesar Akbar

    Kartu Identitas Erick Thohir sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara telah disiapkan di Kantor BUMN, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. Tempo/Caesar Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Erick Thohir meminta kesepakatan valuasi proyek kilang minyak Cilacap yang akan digarap PT Pertamina (Persero) bersama Saudi Aramco segera rampung. Ia menargetkan penghitungan valuasi aset oleh Saudi Aramco kelar dua bulan mendatang, pada Desember nanti.

    "Sampai Desember kami lihat sepakat atau tidak. Kalau tidak, kami cari alternatif lain," ujar Erick Thohir di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Selasa, 29 Oktoner 2019.

    Aramco dan Pertamina bersepakat menjajaki usaha patungan sejak 2014. Sebelum melanjutkan kerja sama lebih jauh, keduanya lebih dulu menghitung valuasi aset. Namun, bertahun-tahun, perhitungan itu tidak kunjung menemui kesepakatan.

    Hingga 2019, keduanya masih berkukuh menggunakan penghitungan valuasinya masing-masing. Rencana perusahaan patungan Pertamina dan Aramco untuk menggarap kilang minyak Cilacap itu pun tak kunjung menemui kepastian.

    Sedianya, akhir Oktober ini, joint venture development agreement kedua pihak memasuki masa jatuh tempo agar segera ada titik cerah. Namun rupanya, Aramco belum kelar jmuga. Perpanjangan waktu pun diberikan kembalk hingga akhir tahun, setelah Pertamina dan Aramco menundanya berulang-ulang.

    Pertamina sebelumnya merencanakan peningkatan kapasitas kilang Cilacap dari 348 ke 400 ribu barel minyak mentah per hari. Tingkat kompleksitas kilang juga bertambah sehingga Pertamina bisa menambah kapasitas produk petrokimianya. Nilai investasi proyek diperkirakan sebesar US$ 5,5-6 miliar.

    Dalam proyek ini, Pertamina hanya menyetor modal sebesar 55 persen. Berdasarkan catatan Tempo, aset kilang yang ada bernilai 40 persen dari total kebutuhan setoran. Kekurangannya akan ditutupi Pertamina dari pinjaman luar negeri.

    Erick memastikan Indonesia masih memberikan kesempatan bagi Saudi Arabia. Ketimbang memprioritaskan mencari partner lain untuk menggarap kilang, ia memilih mendorong kedua negara menyelesaikan kesepakatannya.

    "Bisa cari partner lain juga, tapi kami usahakan yang sudah disepakati oleh kedua negara," tutur Erick Thohir.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.