Menteri Siti: Karhutla Lebih Banyak Disebabkan Faktor Manusia

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siti Nurbaya tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    Siti Nurbaya tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla bisa terjadi akibat faktor alam namun karhutla lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia. "Ada yang akibat buang puntung rokok sembarangan, ada juga karena pembakaran untuk membuka ladang dan kebun," katanya usai mengisi kelas inspirasi di Sekolah Global Mandiri di Cibubur, Jawa Barat, Selasa, 29 Oktober 2019.

    Di hadapan 300 siswa serta perwakilan orang tua siswa, Siti menyatakan pemerintah melakukan upaya pemadaman serta kontrol ketat pengelolaan lahan untuk mencegah kejadian karhutla. "Petugas terus bekerja di lapangan, BPBD juga aktif. Pemerintah masih waspada hingga pertengahan November," kata Menteri LHK menanggapi pertanyaan seorang siswa.

    Sebelumnya seorang siswa Sekolah Global Mandiri Cibubur, Andi Salman Nazafi sempat bertanya tentang apa penyebab karhutla yang terjadi beberapa waktu belakangan.

    Data dari Sistem Monitoring Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK, jumlah titik panas (hotspot) pada Selasa, 29 Oktober 2019, berdasarkan pantauan satelit Terra/Aqua (dengan tingkat kepercayaan ≥ 80 persen) sebanyak 52 titik. Jumlah ini telah turun jauh dibandingkan pekan lalu yang tercatat lebih dari 600 titik.

    Pada kesempatan itu Siti Nurbaya mengatakan di awal jabatannya pada periode kedua sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, memilih mengunjungi sekolah untuk berbagi inspirasi dan mengajak siswa sekolah bersama-sama menjaga lingkungan hidup dan kehutanan.

    Menurut dia, karakter yang terbentuk pada siswa sekolah menentukan Indonesia di masa depan.
    Dalam kesempatan tersebut, Menteri LHK juga membagikan bibit pohon multiguna seperti rambutan, mangga, dan nangka untuk ditanam para siswa dan sekolah.

    Menteri mengajak agar setiap siswa hingga dewasa menanam setidaknya 25 batang pohon. Selain untuk menjaga agar alam tetap hijau, menanam pohon juga bermanfaat untuk menghasilkan oksigen dan mencegah bencana perubahan iklim.

    Kepala Sekolah Global Mandiri Anna Budiatmi menyatakan pihak sekolah sudah mewajibkan siswa untuk membawa botol dan dan kotak makanan dari rumah untuk mengurangi sampah plastik.
    Selain itu, mereka juga wajib mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang untuk kemudian ditabung di Bank Sampah sekolah.

    Sampah tersebut akan didaur ulang menjadi berbagai produk yang bisa dimanfaatkan kembali atau produk kerajinan. "Ini memang kampanye sederhana tapi sebagai generasi penerus, pendidikan lingkungan hidup perlu dilakukan sejak dini," katanya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.