KNKT: Sensor AoA Lion Air JT 610 Pernah Rusak dan Dikirim ke AS

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bukti investigasi mengungkapkan bahwa pilot pesawat Lion Air JT 610 yang mengalami kecelakaan Oktober lalu, dikabarkan membuka-buka sebuah buku panduan sebelum pesawat tersebut jatuh. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Bukti investigasi mengungkapkan bahwa pilot pesawat Lion Air JT 610 yang mengalami kecelakaan Oktober lalu, dikabarkan membuka-buka sebuah buku panduan sebelum pesawat tersebut jatuh. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT, Ony Soerjo Wibowo, mengatakan sensor indikator penunjuk sikap atau angle of attack (AoA) pesawat Boeing 737 Max 8 milik Lion Air JT 610 pernah rusak. Temuan itu diungkapkan dalam rilis hasil investigasi KNKT, Jumat, 25 Oktober 2019.

    "Kami temukan AoA sensor dikirim ke Amerika Serikat. Kemudian sampai di Amerika diperbaiki," ujar Ony di kantornya, Gambir, Jakarta Pusat.

    Menurut Ony, kerusakan itu terjadi pada Agustus 2017 dan langsung dikirimkan ke bengkel Boeing di Florida, Amerika Serikat. Temuan KNKT menyatakan, saat mesin diperbaiki, Boeing tidak menggunakan alat yang direkomendasikan oleh manufaktur.

    Karena alat yang dipakai untuk memperbaiki armada JT 610 tidak sesuai dengan rekomendasi mesti sah, hasilnya tetap terdapat kelemahan. Ony mengatakan pesawat mengalami miskalibrasi.

    Setelah diperbaiki, sensor AoA dikirim ke gudang penyimpanan pesawat Lion Air Group di Batam Aero Technic. Namun, lantaran alat itu dibutuhkan di Denpasar, alat itu dikirim dan dipasang di pesawat JT 610.

    "AoA dipasang tanggal 28 Oktober 2018, sebelum pesawat terbang ke Jakarta," ucapnya.

    Lantaran sudah tersertifikasi, alat AoA yang sudah diperbaiki itu langsung dipasang oleh operator. Saat itu operator tinggal memeriksa dokumentasi alat. Saat itu, adanya masalah miskalibarasi tidak terdeteksi.

    Adapun miskalibarasi ini mengakibatkan terjadinya eror pada The Maneuvering Characteristics Augmentation System alias MCAS. Indikasi kerusakan terlihat saat MCAS menyala berulang-ulang.

    Saat dipasang di JT 610, AOA sensor kiri yang dipasang mengalami deviasi sebesar 21 derajat. Deviasi ini mengakibatkan perbedaan penunjukan ketinggian dan kecepatan antara instrumen kiri dan kanan di cockpit, juga mengaktifkan stick shaker dan MCAS pada penerbangan dari Denpasar ke Jakarta.

    "Saat itu, pilot penerbang JT 610 dari Denpasar ke Jakarta berhasil menghentikan aktifnya MCAS dengan memindahkan strab strim switch ke posisi cut out," kata Ony.

    Namun, masalah yang sama terjadi pada pagi harinya dalam penerbangan Jakarta ke Pangkal Pinang. Pilot penerbang kala itu tak mampu mengendalikan kerusakan, meski telah berupaya. Menurut Ony, pilot berkali-kali mengontak airtraffic controller atau ATC.

    Adapun produsen pesawat Boeing 737 Max 8, Boeing Co., telah menerima rekomendasi dari hasil investigasi KNKT terkait kecelakaan pesawat Lion Air JT 610. Presiden & CEO Boeing Co. Dennis Muilenburg mengatakan entitasnya akan mematuhi rekomendasi KNKT dan mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi terjadinya kejadian yang sama.

    “Kami akan mengikuti rekomendasi keselamatan KNKT dan mengambil langkah untuk meningkatkan keselamatan pesawat 737 MAX untuk mencegah kondisi kontrol kemudi terbang yang terjadi saat kecelakaan ini tidak terulang kembali,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 25 Oktober 2019. 

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.