OJK: Pemindahan Ibu Kota Berpotensi Dorong Pemerataan Investor

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen usai meluncurkan program Simplifikasi Pembukaan Rekening Efek dan Rekening Dana Nasabah Secara Elektronik di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 28 Maret 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen usai meluncurkan program Simplifikasi Pembukaan Rekening Efek dan Rekening Dana Nasabah Secara Elektronik di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 28 Maret 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Mataram - Otoritas Jasa Keuangan atau OJK mengatakan rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan bakal mendorong pemerataan investor. Sebab, selama ini sebagian besar investor pasar modal berada di wilayah Pulau Jawa.

    "Mudah-mudahan kalau nanti pemerintah pindah ibu kota ke Kalimantan berarti akan ada titik pertumbuhan ekonomi baru dan penyebaran ke orang-orang kaya baru, ini bisa lebih merata investornya," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat 25 Oktober 2019.

    Data Kustodian Sentral Efek Indonesia per 23 Oktober 2019, jumlah investor berdasarkan wilayah masih dikuasai oleh Pulau Jawa dengan rasio mencapai 72,20 persen. Disusul kemudian Pulau Sumatera sebesar 15,01 persen dan Pulau Kalimantan dengan 4,90 persen serta sisanya tersebar di Indonesia bagian timur.

    Dari total rasio persentase sebesar 72,20 persen tersebut, Pulau Jawa menggenggam total aset Rp 2.385 triliun, setara dengan 95,55 persen dari total aset nasional. Kemudian yang kedua dipegang Sumatera dengan total aset senilai Rp 32,89 triliun. Sisanya tersebar di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Indonesia bagian timur.

    Menurut Hoesen, kondisi tersebut menunjukkan bahwa saat ini belum terjadi adanya pemerataan kekayaan. Karena itu, saat ini OJK terus menggenjot pembentukan perusahaan efek di daerah- daerah untuk meningkatkan jumlah investor.

    Hoesen juga berharap pembangunan di titik-titik ekonomi baru di berbagai daerah lewat pembangunan infrastruktur selama lima tahun terakhir bisa ikut mendorong pemerataan. Dengan adanya pembangunan itu, diharapkan muncul pusat perekonomian baru sehingga memunculkan adanya potensi investor baru.

    "Harapan saya sampai 2022 itu komposisinya 72 persen yang ada di Pulau Jawa turun, menjadi berkisar 60-65 persen, sisanya berada di luar Pulau Jawa," kata Hoesen.

    Merujuk data OJK sampai dengan 11 Oktober 2019, total investor saham (SID) telah mencapai angka 1,04 juta. Sedangkan investor reksa dana jumlahnya mencapai 1,53 juta dan investor di Surat Berharga Negara (SBN) mencapai angka 291.931 investor.

    Menurut catatan OJK, jumlah investor saham telah meningkat hampir 2 kali lipat atau 194 persen sejak 2014. Sedangkan investor reksa dana meningkat 345 persen sejak 2014. Adapun investor juga meningkat hampir tiga kali lipat atau 276 persen sejak 2014.

    DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.