Alasan Investigasi Lion Air JT 610 Baru Terbit Setahun Kemudian

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyelidik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat memeriksa puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis, 1 November 2018. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Penyelidik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat memeriksa puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis, 1 November 2018. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT merilis hasil investigasinya terhadap kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 tepat setahun setelah insiden nahas itu terjadi. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan lembaganya butuh waktu cukup lama untuk mengelarkan penelaahan hingga menemukan faktor-faktor penyebab kecelakaan.

    "Hasil investigasi ini adalah hasil dari sekian banyak langkah. Kami memeriksa sekitar 463 (pihak) dan data yang lainnya. Semua itu untuk mendukung analisis," ujarnya di kantor KNKT, Jakarta Pusat, Jumat, 25 Oktober 2019.

    Soerjanto mengatakan KNKT menghadapi kompleksitas saat mengelola data. Menurut dia, pihaknya perlu mengelola data dengan cepat, namun hati-hati. KNKT juga perlu mengakurasi data utama dan pendukung agar temuan finalnya tidak meleset.

    Selama menggelar penelaahan, KNKT menerima bantuan dari investigator keselamatan penerbangan Australia, Malaysia, dan Singapura. Indonesia juga memperoleh bantuan dari Kerajaan Arab Saudi sebagai peneliti alias observer.

    Adapun investigasi dilakukan berdasarkan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2013.
    "Dalam pasal itu, investigasi KNKT tidak bertujuan untuk mencari kesalahan, tidak memberikan sanksi, dan tidak menentukan pihak yang bertanggung jawab," tutur Soerjanto.

    Adapun dari hasil investigasi itu, KNKT telah mengirimkan hasil rekomendasi mereka kepada Lion Air dan perusahaan Boeing Co. Kepala Sub-bidang Komite Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengatakan poin rekomendasi itu meliputi asumsi pembuatan desain pesawat hingga sistem manajemen penerbangan yang mesti diperbaiki.

    "Untuk Boeing, kami kirimkan rekomendasi soal bagaimana mereka melakukan penilaian, kajian-kajian, dan asumsi yang perlu diperbaiki," ujar Nurcahyo.

    Nurcahyo mengatakan, dalam merancang pesawat, Boeing tidak mempertimbangkan standar kemampuan standar pada umumnya. Namun, perusahaan itu merujuk pada kemampuan pilot yang umumnya bertugas mengetes penerbangan alias pilot test.

    Padahal, menurut KNKT, kemampuan pilot pada umumnya tidak seluruhnya semumpuni test pilot. KNKT juga mengirimkan rekomendasi kepada Boeing agar perusahaan membuat asumsi sistem penerbangan pesawat yang lebih membumi

    Adapun untuk Lion Air, KNKT menyarankan perusahaan melakukan perbaikan di berbagai sisi. Terutama di bidang pelatihan, manual training, hingga pembuatan silabus training. KNKT juga menyinggung soal pembaruan sistem yang mesti dilakukan berkala. "Mereka punya sistem manual itu sebaiknya diperbaiki atau diupgrade sesuai dengan waktunya. Lalu, menjamin implementasinya di lapangan," tuturnya.

    Seluruhnya, KNKT mengirimkan enam poin rekomendasi kepada Boeing dan tiga poin rekomendasi kepada Lion Air. KNKT tak merinci poin-poin tersebut.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.