Produksi Migas Turun, SKK Migas: Terimbas Insiden PHE ONWJ

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto saat berkunjung ke Kantor Tempo, Jakarta, 12 Juli 2019. TEMPO/Fardi Bestari

    Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto saat berkunjung ke Kantor Tempo, Jakarta, 12 Juli 2019. TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Satuan kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat sepanjang kuartal III tahun realisasi produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi (migas) mencapai 1,8 juta barel per hari. Angka itu setara dengan 89 persen dari target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar 2 juta barel setara minyak per hari atau BOEPD.

    Secara umum, sebesar 84 persen total lifting hulu migas tahun ini merupakan kontribusi dari sepuluh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) utama dan 16 persen didukung 80 KKKS lainnya. 

    Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyatakan lifting yang belum mencapai target itu berdampak pada realisasi penerimaan negara. Per September 2019, penerimaan migas mencapai US$ 10,99 miliar.

    “Hal ini (penerimaan negara) juga dipengaruhi ICP (Indonesia Crude Price) yang sebesar US$ 60-an dolar per barel. Ini cukup jauh di bawah target asumsi makro APBN yaitu US$ 70 per barel,” kata Dwi pada konferensi pers capaian kinerja hulu migas kuartal III di kantor SKK Migas, Jakarta, Kamis, 24 Oktober 2019.

    Dwi menjelaskan, pada kuartal ketiga tahun ini, rincian lifting migas 1,8 juta barel itu terbagi atas produksi minyak bumi 745 ribu barel dan produksi gas bumi 1,05 juta barel.

    Angka tersebut turun bila dibandingkan kuartal sebelumnya. Di kuartal kedua tahun ini, produksi minyak bumi mencapai 752 ribu dan lifting gas bumi mencapai 1,037 juta barel.

    Lebih jauh Dwi menyebutkan salah satu penyebab turunnya produksi migas itu adalah  kejadian kebocoran minyak Pertamina di proyek YY, Blok Offshore North West Java (ONWJ), sehingga harus ditutup secara permanen.

    Namun, jika hulu migas tersebut lekas beroperasi secara normal, Dwi yakin produksi migas tahun ini bakal segera pulih. "Kejadian di ONWJ, lifting di sana jadi tidak terjadi (penambahan produksi migas) karena kejadian itu (kebocoran minyak)," ucapnya.

    Dari sisi investasi hulu migas, kata Dwi, hingga bulan September 2019 mencapai US$ 8,4 miliar. Angka itu meningkat 11 persen dibandingkan investasi di kuartal tiga tahun 2018 sebesar US$ 7,6 miliar.

    Dwi memprediksi investasi hulu migas ke depan akan terus meningkat mengingat hingga tahun 2027 terdapat 42 proyek utama dengan total investasi US$ 43,3 miliar dan proyeksi pendapatan kotor (gross revenue) sebesar US$ 20 miliar. "Total produksi dari 42 proyek tersebut 1,1 juta barel yang mencakup produksi minyak sebesar 92,1 ribu barel dan gas sebesar 6,1 miliar kaki kubik per hari."

    Sedikitnya ada empat proyek di antaranya yang merupakan proyek strategis nasional (PSN) hulu migas yang menjadi prioritas. Proyek-proyek ini yang digadang-gadang untuk meningkatkan produksi migas demi memenuhi konsumsi domestik yang semakin meningkat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.