Dapat Kredit 2,25 T, Bio Farma Genjot Produksi dan Ekspansi Pasar

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Biofarma di Jalan Pasteur, Bandung, Jawa Barat. TEMPO/Prima Mulia

    Gedung Biofarma di Jalan Pasteur, Bandung, Jawa Barat. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bio Farma mendapat kredit investasi sindikasi tujuh bank nasional Rp 2,25 triliun. Direktur Keuangan dan Mitra Bisnis PT Bio Farma, IGN Suharta Wijaya menyatakan pendanaan kredit investasi ini digunakan untuk menambah fasilitas penunjang produksi dan perangkatnya.

    "Seperti fasilitas Quality Control, persiapan pre produksi, uji klinis, dan juga maintenance fasilitas produksi, sejalan dengan bertambahnya fasilitas produksi terbaru yang masih dalam tahap penyelesaian,” kata Suharta seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis, 24 Oktober 2019.

    Sindikasi tujuh bank nasional itu dikomandoi Bank BRI, Bank Mandiri, dan BNI selaku Joint Mandated Lead Arranger and Bookrunner (JMLAB) dengan nilai keseluruhan Rp 2,25 triliun. Dua skema kredit yang digunakan yakni kredit konvensional dan syariah.

    Skema kredit konvensional senilai Rp 1,6 triliun dan sisanya skema syariah (pembiayaan musyarakah) Rp 6 miliar. Tujuh bank yang terlibat adalah BRI, Bank Mandiri, BNI, BNI Syariah, BRI Syariah, Mandiri Syariah, dan Indonesia Eximbank.

    Suharta mengatakan, kredit tersebut akan digunakan untuk membangun fasilitas penunjang produksi. “Baik produksi eksisting maupun produk baru untuk membantu rencana ekspansi pasar Bio Farma ke depan,” kata dia.

    Penandatanganan perjanjian kredit investasi itu dilakukan pada hari Kamis, 24 Oktober 2019 di Jakarta, antara Direktur Keuangan dan Mitra Bisnis PT Bio Farma dan masing-masing perwakilan tujuh bank sindikasi tersebut disaksikan Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir.

    Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, akan memperluas pasar dengan mengincar Afrika. Di antaranya dengan penandatanganan MOU di gelaran Indonesia-Africa Dialogue di Bali pada Agustus 2019 lalu, serta persiapan transfer teknologi untuk negara-negara anggota OKI (Organsiasi Kerjasama Islam) untuk mencapai tujuan Sustainable Development Goals 2030 dengan menekan angka kematian bayi dan balita lewat pemberian vaksinasi.

    Program vaksinasi berupaya untuk menghapuskan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, serta untuk mendukung pencapaian Pembangunan Berkelanjutan nomor 3, yaitu tentang kesehatan universal. Dengan begitu, diharapkan semua anak dan balita dan orang dewasa bisa mendapatkan vaksin dengan mudah.

    "Oleh karenanya Bio Farma perlu untuk meningkatkan kapsitas produksinya baik untuk produk yang sudah ada, maupun untuk produk baru Bio Farma,” kata Honesti.

    Bio Farma juga sudah ditunjuk menjadi induk holding BUMN Farmasi, yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 76 tahun 2019 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bio Farma tanggal 15 Oktober 2019. Dengan penunjukan itu, Bio Farma sudah menyiapkan rencana untuk menambah pangsa pasar baik di dalam dan luar negeri lewat pemenuhan kebutuhan vaksin.

    Sejumlah produk vaksin akan ditingkatkan kapasitas produksinya, di antaranya vaksin Pentavalen, bahan aktif untuk bulk tetanus dan difteri. Bio Farma juga tengah menyiapkan fasilitas produksi baru di Bandung untuk produksi vaksin MR, vaksin Typoid, dan vaksin Rotavirus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.