BRI Salurkan Kredit Rp 903,14 Triliun Sepanjang Kuartal III

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama Bank BRI yang baru Sunarso (tengah) bersama direksi dan komisaris sebelum memberikan keterangan usai RUPSLB di Jakarta, Senin, 2 September 2019. RUPSLB tersebut menyetujui Sunarso menjadi dirut BRI,sebelumnya ia menjabat sebagai Wadirut BRI. TEMPO/Tony Hartawan

    Direktur Utama Bank BRI yang baru Sunarso (tengah) bersama direksi dan komisaris sebelum memberikan keterangan usai RUPSLB di Jakarta, Senin, 2 September 2019. RUPSLB tersebut menyetujui Sunarso menjadi dirut BRI,sebelumnya ia menjabat sebagai Wadirut BRI. TEMPO/Tony Hartawan

    Tempo.Co, Jakarta - Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso mengatakan BRI catatkan kinerja positif dari sisi penyaluran kredit. Dia mengatakan hingga kuartal III-2019, BRI secara konsolidasi telah menyalurkan kredit senilai Rp 903,14 triliun. Nilai itu, kata dia, menunjukkan pertumbuhan 11,65 persen.

    Menurut dia, pertumbuhan itu lebih tinggi dari industri yang sebesar 8,59 persen. "Salah satu penyokong utama penyaluran kredit tersebut ialah pada segmen mikro yang mampu tumbuh 13,23 persen yoy dengan proporsinya mencapai sepertiga dari keseluruhan kredit BRI," kata Sunarso di Gedung BRI 1, Jakarta, Kamis, 24 Oktober 2019.

    Adapun kata dia, penyaluran kredit itu terbagi dari kredit mikro BRI tercatat Rp 301,89 triliun dan kredit konsumer Rp 137,29 triliun atau tumbuh 7,85 persen yoy. Sedangkan untuk kredit ritel dan menengah tercatat sebesar Rp 261,67 triliun atau tumbuh 14,80 persen yoy dan kredit korporasi BRI Rp 202,30 triliun.

    Menurut dia, porsi kredit UMKM mencapai 77,60 persen dari keseluruhan kredit BRI. "Angka ini berhasil kami tingkatkan secara perlahan dan targetnya proporsi kredit UMKM bisa mencapai 80 persen di tahun di tahun 2022,” ujarnya.

    Sunarso juga mengatakan rasio kredit bermasalah atau non performing loan BRI tercatat 3,08 persen. Angka itu, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang masih diangka 2,5 persdn.

    Sunarso menyebut secara industri kredit risiko kredit bermasalah memang meningkat. NPL tertinggi, kata dia, di segmen korporasi dan beberapa sektor industri. "Di mana kira-kira kami nilai ada menghadapi masalah di industrinya memang kami tetapkan sebagai NPL. Ada industri semen, dan tekstil," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.