Surakarta Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Rp 325 M

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memeriksa mesin yang mengelola air limbah sampah atau air lindi menjadi air bersih di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 1 Oktober 2018. Saat ini TPA Benowo dikenal sebagai pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Benowo, dan ke depannya mereka berharap seluruh TPA di Indonesia dapat menjadi lebih bermanfaat khususnya bagi masyarakat sekitarnya. ANTARA FOTO/Zabur Karuru.

    Pekerja memeriksa mesin yang mengelola air limbah sampah atau air lindi menjadi air bersih di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 1 Oktober 2018. Saat ini TPA Benowo dikenal sebagai pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Benowo, dan ke depannya mereka berharap seluruh TPA di Indonesia dapat menjadi lebih bermanfaat khususnya bagi masyarakat sekitarnya. ANTARA FOTO/Zabur Karuru.

    TEMPO.CO, Solo - Pemerintah Kota Surakarta mulai membangun instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo, Rabu 22 Oktober 2019. Pembangunan tahap pertama yang akan berjalan selama dua tahun itu memakan investasi sekitar dari US$ 23 juta atau setara Rp 325 miliar.

    Pemkot Surakarta menggandeng PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) sebagai pelaksana dan pengelola pembangkit listrik itu. "Proyek ini akan mengatasi permasalahan sampah yang dihadapi oleh pemerintah daerah," kata Direktur PT SCMPP Elan Syuherlan di sela-sela groundbreaking di TPA Putri Cempo.

    Menurut Elan, pembangunan proyek PLTSa itu akan dikerjakan dalam dua tahap. Pembangunan tahap pertama ini rencananya akan memakan waktu hingga dua tahun. "Dalam waktu dua tahun ke depan PLTSa Putri Cempo Solo bisa segera beroperasi," kata dia.

    PLTSa yang dibangun di tahap pertama itu diproyeksikan bisa menghasilkan listrik sebesar 5 megawatt. Sebagian dari investasi itu merupakan pinjaman dari China Construction Bank (CCB) Indonesia. ”Total pinjaman dari CCB Indonesia sebesar USD 16 juta," kata Elan. Rencananya pinjaman itu akan dikembalikan selama bertahap selama delapan tahun.

    Sedangkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah tahap dua rencananya akan dikerjakan setelah pinjaman tersebut lunas. Dalam pembangunan tahap dua tersebut, mereka akan melipatkan kapasitas produksi listrik menjadi 10 megawatt.

    Direktur Bisnis CCB Indonesia Setiawati Samahita menjelaskan, selama ini pihaknya sering mendanai proyek-proyek ramah lingkungan maupun energi. "Namun baru sekali ini mendanai proyek pengolahan sampah," katanya.

    Dia yakin proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah itu tersebut akan banyak ditiru oleh kota-kota lain di Indonesia. Sebab, semua daerah memiliki masalah yang sama dalam pengelolaan sampah. Menurut Setiawati, keputusannya dalam mendanai proyek PLTSa ini murni dari segi pertimbangan bisnis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.