Erick Thohir Jadi Menteri, Mayoritas Saham Emiten BUMN Terkoreksi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Erick Thohir bersama Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dalam kunjungan ke Surabaya pada Rabu 7 Agustus 2019. (foto: istimewa)

    Erick Thohir bersama Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dalam kunjungan ke Surabaya pada Rabu 7 Agustus 2019. (foto: istimewa)

    TEMPO.CO, Jakarta - Bertepatan dengan pengangkatan pengusaha Erick Thohir sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara, saham emiten dari keluarga BUMN tampak bergerak variatif. Berdasarkan data Bloomberg, dari 20 saham BUMN dan 13 saham anak usaha BUMN ada 9 saham yang bergerak naik, 14 saham terkoreksi, dan 10 saham tidak mengalami perubahan harga.

    Pada sesi I perdagangan hari ini, Rabu 23 Oktober 2019, saham PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) terkoreksi 3,27 persen menjadi Rp1.035 dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (AGRO) turun 1,85 persen ke level Rp212. 

    Sebaliknya, saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) menjadi top gainers di antara saham-saham emiten keluarga BUMN. PGAS menguat 2,68 persen ke level Rp2.300 dan WIKA naik 2 persen ke level Rp2.040.

    Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo menunjuk Erick Thohir sebagai Menteri BUMN dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Komisaris Utama PT Mahaka Media Tbk. itu resmi menggantikan Rini Soemarno. Erick dilantik di Istana Negara bersama dengan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju.

    Tak hanya saham BUMN yang merosot, sesaat setelah pelantikan, respons pasar terhadap saham perusahaan Erick Thohir juga negatif. Saham ketiga perusahaan Erick yaitu PT Visi Media Asia Tbk (ABBA) dan PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) dan PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) cenderung melemah.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.