Menteri Lama Jokowi Tampil Lagi, CSIS: Inovasi Jalan Terus

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kanan) berpelukan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) dalam acara silaturahmi kabinet kerja di Istana Negara, Jakarta, Jumat 18 Oktober 2019. Silaturahmi itu juga merupakan ajang perpisahan presiden, wakil presiden serta para menteri kabinet kerja yang telah bekerja sama selama lima tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kanan) berpelukan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) dalam acara silaturahmi kabinet kerja di Istana Negara, Jakarta, Jumat 18 Oktober 2019. Silaturahmi itu juga merupakan ajang perpisahan presiden, wakil presiden serta para menteri kabinet kerja yang telah bekerja sama selama lima tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Bertahannya wajah-wajah lama dalam Kabinet Jokowi Jilid II dinilai tak akan menghambat munculnya kebijakan ekonomi yang inovatif. Justru wajah-wajah lama itu diyakini akan melanjutkan prestasinya dalam menghadapi krisis ekonomi global.  

    Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Yose Rizal Damuri saat dihubungi, Selasa 22 Oktober 2019 sore, menyambut baik kembalinya sejumlah nama lama menjadi menteri.

    Menurut Yose, orang lama yang kembali ditunjuk Presiden Jokowi menang terbilang berprestasi di posnya masing-masing. Mereka cenderung memiliki kinerja di atas rata-rata dibandingkan dengan menteri-menteri atau kepala instansi lainnya. 

    Yose Rizal mencontohkan Sri Mulyani yang berhasil mengembalikan kredibilitas anggaran. Di bawah eks-Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pemerintah tidak pernah lagi mengajukan APBN Perubahan (APBN-P) sejak 2018.

    Yose meyakini hal ini tidak akan menghambat munculnya inovasi-inovasi kebijakan di bidang ekonomi. Sebaliknya, wajah-wajah lama tersebut dapat langsung menerapkan rencana yang sebelumnya telah dicanangkan.

    "Biasanya kalau berganti menteri pasti akan melewati periode transisi dahulu. Hal ini akan menghambat pemberlakuan kebijakan yang dapat berdampak positif bagi Indonesia," jelas Yose.

    Yose melanjutkan bahwa menteri lama yang kembali ditunjuk Jokowi akan melompati periode tersebut. Mereka dapat langsung melakukan evaluasi rencana dan kebijakan yang dinilai kurang berdampak atau tidak sesuai dengan program nasional lima tahun ke depan. "Menurut saya justru akan berdampak bagus. Toh, Pak Jokowi hitungannya juga orang lama," ujar Yose.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.