Investigasi KNKT Soal JT610 akan Jadi Rekomendasi Kemenhub

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bukti investigasi mengungkapkan bahwa pilot pesawat Lion Air JT 610 yang mengalami kecelakaan Oktober lalu, dikabarkan membuka-buka sebuah buku panduan sebelum pesawat tersebut jatuh. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Bukti investigasi mengungkapkan bahwa pilot pesawat Lion Air JT 610 yang mengalami kecelakaan Oktober lalu, dikabarkan membuka-buka sebuah buku panduan sebelum pesawat tersebut jatuh. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana Banguningsih Pramesti mengatakan Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT akan segera melaporkan hasil temuan investigasi terkait kecelakaan Lion Air JT610 dalam waktu dekat. Temuan itu menjadi rekomendasi untuk pengambilan kebijakan ke depan.

    "Akan kami jadikan rekomendasi. Nanti tergantung temuannya apa," ujar Polana di Hotel Morrisey, Jakarta Pusat, Selasa, 22 Oktober 2019.

    Polana mengatakan hasil temuan KNKT akan dilaporkan kepada Kemenhub paling lambat pekan depan. Adapun saat ini sejatinya investigasi temuan Komite telah rampung. Namun, Polana mengatakan KNKT baru sebatas memberi tahu beberapa poin penting.

    Ihwal detail komunikasi antara Kemenhub dan KNKT, Polana belum bisa gamblangkan. Ia mengatakan komunikasi KNKT dan Kemenhub bersifat tertutup.

    KNKT sebelumnya memastikan akan merilis hasil investigasi final terkait kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, tahun lalu. Paparan tersebut akan disampaikan kepada keluarga korban lebih dulu pada Rabu, 23 Oktober 2019.  

    Keluarga korban, Anton Sahadi, mengatakan telah menerima surat resmi dari KNKT terkait sosialisasi laporan tersebut. “Iya, betul. Surat sudah diterima,” ujarnya saat dihubungi Tempo pada Senin, 21 Oktober 2019.

    Juru bicara KNKT, Anggo Anggoro, mengatakan komitenya memprioritaskan sosialisasi laporan final itu untuk keluarga. Sedangkan pemaparan untuk publik akan disampaikan di kemudian hari. “Untuk media akan kami kabari segera,” tuturnya. 

    Lion Air JT 610 jenis Boeing 737 Max 8 yang membawa 189 penumpang dan awak kapal mengalami kecelakaan setelah hilang kontak di perairan Karawang, Jawa Barat, 26 Oktober 2018 lalu. Pesawat nahas itu sedianya mengangkut penumpang dari Jakarta menuju Bangka. 

    Kecelakaan serupa setelahnya menimpa pesawat jenis yang sama yang dioperasikan oleh Ethiopian Airlines. Tepatnya pada 10 Maret 2019, armada Boeing 737 Max 8 milik Ethiopian Airlines yang mengangkut 157 penumpang jatuh di daratan Addis Ababa. 

    Akibat kejadian itu, Boeing mengadakan penelaahan terhadap pesawatnya. Boeing menemukan adanya kesalahan sistem yang disinyalir menyebabkan pesawat dalam keadaan stall. 

    Karena dua kejadian ini, regulator penerbangan Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA) meminta produsen Boeing, Boeing Co. mengandangkan seluruh pesawat Boeing 737 seri MAx-nya di dunia. Lantaran kasus ini, Boeing menghadapi lebih kurang 100 tuntutan dari keluarga korban. 



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.