Tak Ada Jokowi Effect, Pasar Tunggu Menteri Ekonomi Definitif

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Investor di pasar modal masih menunggu siapa saja menteri ekonomi yang akan diumumkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk masa pemerintahan 2019 –2024.

    Pada perdagangan Senin kemarin, pergerakan indeks harga saham gabungan atau IHSG berada di zona hijau meskipun bergerak bervariasi. Adapun, IHSG sempat menyentuh titik tertinggi yakni 6.228,23 sebelum akhirnya menyentuh titik terendah yakni 6.187,36 pada sesi kedua.

    IHSG kemarin akhirnya ditutup menghijau 6.198,98 atau naik tipis 0,11 persen. Penguatan IHSG ditopang penguatan pada sektor konsumer yang naik 0,82 persen dan agrikultur sebesar 0,73 persen. 

    Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat mengatakan kondisi pasar saham saat ini cenderung menanti pengumuman menteri ekonomi pada Kabinet Kerja Jilid II. Adapun, sejumlah nama yang datang memenuhi undangan presiden pada Senin kemarin cukup memberikan secercah optimisme terhadap perubahan ke arah yang lebih baik.

    “Saya kira market juga masih menunggu siapa yang akan menjadi pembantu presiden terutama yang membawahi bidang ekonomi,” ujar Samsul, Senin, 21 Oktober 2019.

    Samsul menyebut masuknya kalangan muda di kabinet diharapkan bisa membawa semangat tanpa memperlebar rentang perbedaan sehingga iklim yang tercipta tetap kondusif bagi investasi. Namun, menurut dia, harapan yang dibawa oleh kalangan muda yang bakal masuk kabinet cenderung tak langgeng.

    Dia menilai pelaku pasar bakal memperhatikan sosok yang dikenal memiliki rekam jejak positif di bidang terkait dengan posisi yang ditugaskan nantinya tanpa memandang usia atau asalnya. Pasalnya, pada akhirnya, pasar menginginkan kemampuan dan aksi pengisi jabatan menteri khususnya di bidang ekonomi menjaga kestabilan di Tanah Air. “Pasar modal lebih kepada bagaimana mereka (menteri) men-deliver. Menteri tidak dilihat dari mana dan siapa tetapi bagaimana (kerjanya),” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.