Gapki: Ekspor Minyak Sawit Tumbuh 3,8 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • kelapa Sawit

    kelapa Sawit

    TEMPO.CO, Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) mencatat ekspor minyak sawit mentah (CPO) nasional dan produk turunannya sepanjang Januari-Agustus 2019 sebesar 22,7 juta ton. Angka ini tumbuh 3,8 persen dibandingkan periode yang  sama pada tahun 2018.

    Namun, khusus Agustus 2019 volume ekspor minyak sawit sebesar 2,891 juta ton atau lebih rendah sekitar satu persen dibandingkan dengan ekspor bulan sebelumnya yang sebesar 2,916 juta ton. 

    Kenaikan ekspor terbesar berasal dari Cina yang naik sebesar 150.000 ton dan ke Timur Tengah yang naik 110.000 ton, serta Amerika Serikat yang naik 90.000 ton. Adapun penurunan ekspor terjadi untuk tujuan India, Banglades, Pakistan dan Uni Eropa. 

    "Volume ekspor minyak sawit bulan Agustus satu persen lebih rendah dibandingkan bulan Juli, meskipun harga rata-rata CPO pada bulan Agustus sekitar 40-50 dolar AS lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada bulan Juli," kata Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjon dalam rilisnya, Jumat 18 Oktober 2019.

    Volume ekspor minyak sawit Agustus 2019 dipengaruhi oleh penurunan ekspor CPO hingga 115.000 ton, yakni dari 678.000 ton pada Juli 2019 menjadi 563.000 ton. Namun, ekspor produk turunan kelapa sawit seperti lauric, refined palm oil, biodiesel dan oleochemical mengalami pertumbuhan. Pada Agustus, volumenya menjadi 2,328 juta ton dari bulan sebelumnya 2,238 juta ton.

    Pada Agustus, ekspor biodiesel mengalami penurunan dibandingkan bulan Juli yaitu dari 187.000 ton menjadi 162.000 ton dan tidak tercatat adanya ekspor biodiesel ke Uni Eropa.

    Di akhir Agustus, harga CPO masih menunjukkan tren naik. Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit dinilai perlu memperkuat pengaruhnya dalam keseimbangan supply-demand dan pembentukan harga.

    Implementasi B20 dan segera dengan B30 pasti diharapkan juga meningkatkan konsumsi dalam negeri dan mengerek harga. Akan tetapi, mengingat harga minyak sawit dan minyak bumi yang fluktuatif, pengaturannya perlu disusun sedemikian rupa sehingga tidak membelenggu Pertamina maupun produsen biodiesel.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.