Cerita JK soal Peran Emil Salim saat Nego Utang di 1996

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahli Ekonomi, Prof. Emil Salim ikut menghadiri pertemuan antara sejumlah tokoh dan budayawan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 26 September 2019. Pertemuan untuk memberi masukan terkait permasalahan politik saat ini. TEMPO/Subekti.

    Ahli Ekonomi, Prof. Emil Salim ikut menghadiri pertemuan antara sejumlah tokoh dan budayawan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 26 September 2019. Pertemuan untuk memberi masukan terkait permasalahan politik saat ini. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK menceritakan pengalamannya bertemu dengan ekonom senior Emil Salim untuk pertama kali pada 54 tahun lalu. Emil salim yang kini berusia 89 tahun, merupakan salah satu ekonom senior Indonesia yang memiliki terobosan ekonomi.

    Saat itu, JK merupakan Ketua Senat Mahasiswa di Universitas Hasanuddin Makassar. Sementara Emil Salim menjadi Tim Ekonomi Penasihat Presiden.

    Pada tahun 1966 itu, Indonesia tengah berupaya menyelesaikan gejolak politik dan ekonomi. Pembangunan infrastruktur raksasa yang dilakukan oleh Presiden Soekarno pada waktu itu dengan menggunakan dana utang menyeret Indonesia kepada inflasi sangat dalam.

    Saat itu, inflasi Indonesia meroket hingga 635 persen. Untuk mengatasi itu, pemerintah melakukan kebijakan redenominasi atau penyederhanaan nilai uang. Namun, karena kurangnya sosialisasi, harga barang menjadi tidak terkendali karena informasi simpang siur. 

    JK menjelaskan, kala itu Emil Salim dan para ekonom yang berada di pemerintahan menemui negara donor untuk menyelesaikan masalah tersebut. Saat itu Indonesia berjanji bakal membayar utangnya jika ekonomi pulih dan kembali memperoleh kepercayaan internasional.

    Ketika itu, JK bertanya pada Emil Salim yang baru pulang pertemuan dengan IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia). "Bagaimana hasilnya? (Pak Emil jawab) Itu gampang, kita tinggal bilang tidak bisa bayar, mau apa itu orang-orang (donor)," ucap JK, Kamis, 17 Oktober 2019. 

    Jika Indonesia sudah sanggup, kata Emil, pemerintah akan membayar utang. "Kita bilang kalau sudah sanggup kita bayar. Artinya itulah cara mengatur bangsa. Ada yang susah, ada yang gampang," kata JK menirukan jawaban Emil. Hal itu diceritakan JK pada acara dialog dengan 100 ekonom.

    Lebih jauh JK menyampaikan saat ini di dunia ekonomi Indonesia berada di level menengah. Beban utang yang ditanggung pemerintah Indonesia walau secara angka terus membesar, tetapi dibandingkan dengan produk domestik bruto juga dalam batas wajar yakni di bawah 30 persen.

    "Jadi, memang kalau berutang banyak yang susah bukan si penerima utang, yang susah pemberi utang. Bukan bermaksud mengajarkan orang berutang tidak bayar, tidak. Tapi, kalau sulit, ya bagaimana," ucap JK.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.