Evaluasi Kinerja Kabinet Jokowi Jilid I, Menhub Soroti Tol Laut

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Republik Indonesia Ir. Budi Karya Sumadi saat membuka  lomba desain ibu kota baru di Hotel Red Top, Jakarta. Kamis (10/11).

    Menteri Perhubungan Republik Indonesia Ir. Budi Karya Sumadi saat membuka lomba desain ibu kota baru di Hotel Red Top, Jakarta. Kamis (10/11).

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan evaluasi kerjanya menjelang masa jabatan Kabinet Indonesia Kerja Jilid I berakhir. Salah satu persoalan yang ia soroti adalah program tol laut yang menjadi Nawacita Presiden Joko Widodo.

    Budi Karya mengakui pengoperasian tol laut yang bertujuan untuk memangkas disparitas harga barang kebutuhan pokok di pulau-pulau terluar tidak sepenuhnya tepat sasaran. Misalnya, terjadi kebocoran pemanfaatan. “Soal kebocoran, ada pengusaha yang menikmati,” ujar Budi Karya dalam wawancara khusus bersama Tempo pada Selasa, 14 Oktober 2019.

    Budi Karya mengatakan Kementerian Perhubungan ke depan perlu membangun teknologi termutakhir untuk memastikan pengoperasian tol laut terekam secara akurat. Misalnya teknologi yang mampu mendeteksi secara real time nama pengirim, waktu pengangkutan, jenis kapal pengangkut, hingga penerimanya.

    “Yang mesti kita lakukan adalah tol laut terkontrol dengan baik dan sasarannya tepat,” ujarnya.

    Proyek tol laut acap menuai kritik dari Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR periode 2014-2019 yang saat ini sudah habis masa jabatannya. Dalam rapat anggaran 3 September lalu, misalnya, program ini sampai disinggung tiga kali dalam satu pertemuan. Pelbagai fraksi mengkritik program transportasi logistik ini dianggap kurang optimal.

    Bekas anggota Komisi V dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo, misalnya, menyinggung jadwal tol laut yang saat ini masih karut-marut. "Jadwal tol laut bisa berubah-ubah. Terkait ini kita perlu tertibkan lagi,” ujar Bambang di kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, kala itu.

    Budi Karya tak menampik kritik dari DPR. Ia mengatakan perlu sejumlah pembenahan, selain teknologi, untuk mengefektifkan tol laut. Ia pun memastikan pemerintah masih akan menggelontorkan subsidi untuk tol laut hingga 5-10 tahun mendatang.

    Hingga saat ini, terdapat 18 trayek tol laut yang terdiri atas empat hub atau jalur utama dan 14 jalur penghubung. Dari 18 trayek, 11 di antaranya merupakan penugasa serta tujuh trayek lainnya merupakan hasil lelang. Subsidi tol laut itu diberikan untuk 16 trayek sebagai subsidi pengoperasian kapal, 2 trayek untuk subsidi kontainer/ruang muat kapal swasta.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | YOHANES PASKALIS | KODRAT SETIAWAN | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.