Kominfo: Tak Ada Celah Sembunyi Bagi Pelaku Kejahatan Siber

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan aturan pelarangan iklan digital pada masa tenang pemilihan umum di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat nomor 9, Jakarta Pusat, Senin, 25 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan aturan pelarangan iklan digital pada masa tenang pemilihan umum di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat nomor 9, Jakarta Pusat, Senin, 25 Maret 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta -Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Pangerapan, mengatakan, tidak ada celah untuk bersembunyi bagi para pelaku kejahatan siber.

    Meski pelaku menggunakan identitas palsu untuk mengelabui, petugas akan tetap mampu menelusuri dan mengungkap identitas asli pelaku. "Di ruang digital, kita tidak bisa bersembunyi. Mau pakai nama palsu, foto orang lain, bisa kami temukan (identitasnya). Tidak bisa sembunyi di ruang digital," kata Pangerapan, dalam diskusi bertajuk Milenial dalam Pusaran Hoax dan Masa Depan Bangsa, di Jakarta, Rabu, 16 Oktober 2019.

    Ia pun meminta warganet memiliki kesadaran untuk menggunakan media sosial secara bijak agar tidak melanggar UU ITE.

    Dalam kesempatan itu, ia meminta warganet berhati-hati dalam mengunggah suatu konten di media sosial. Sebab jika suatu konten sudah diunggah di media sosial maka akan sulit menghilangkan jejak digitalnya meski sudah dihapus. Hal itu karena warganet lainnya mengunggah ulang konten serupa sehingga konten pun menyebar.

    "Apa yang kita posting, lalu dihapus, belum tentu bisa 100 persen hilang," katanya.

    Ia pun mencontohkan soal info hoaks kontainer yang mengangkut surat suara tercoblos di Tanjung Priok.

    Meski unggahan itu sudah dihapus oleh penyebarnya, sejumlah warganet kemudian meneruskan informasi tersebut di akun medsos mereka masing-masing.

    "Di lini waktu kami sudah enggak ada, tapi di manapun, siapapun, sudah ditangkap itu," kata dia.

    Ia pun menekankan pentingnya warganet melakukan cek dan ricek informasi media sosial sebelum mempercayainya dan menyebarkan ke pihak lain.

    Pasalnya tak sedikit warganet yang terprovokasi unggahan yang beredar di media sosial tanpa mengetahui kebenaran faktanya.

    Ia meminta warganet tak ragu untuk mengecek di kanal yang disediakan Kementerian Kominfo yakni melalui stophoax.id, untuk memilah kebenaran informasi yang diterima di media sosial.

    "Sekarang zamannya tsunami informasi. Yang paling penting cari sumbernya. Masyarakat juga bisa cek ke stophoax.id untuk memverifikasi info ini (berita di media sosial) benar atau tidak," katanya. 

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.