Serapan Beras Bulog Rendah, Buwas: Stok Cadangan Melimpah

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kedua kanan) didampingi Menteri Perdagangan Enggar Lukito (kanan), Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (buwas) (ketiga kiri) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melakukan peninjauan gudang beras milik Perum Bulog di divre DKI Jakarta-Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 10 Januari 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kedua kanan) didampingi Menteri Perdagangan Enggar Lukito (kanan), Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (buwas) (ketiga kiri) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melakukan peninjauan gudang beras milik Perum Bulog di divre DKI Jakarta-Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 10 Januari 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan posisi stok beras saat ini melimpah hingga mencapai 2,3 juta ton. Menurut Budi yang biasa disapa Buwas ini, stok beras tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan beras masyarakat hingga akhir 2019.

    Buwas menjelaskan, stok yang melimpah tersebut dikarenakan serapan beras Bulog di pasaran masih di bawah target. Bulog menargetkan bisa menyalurkan beras lewat operasi pasar sampai 15 ribu ton per hari, namun nyatanya hanya bisa 3-4 ribu ton per hari.

    "Kami sudah intervensi, sudah jualan, udah operasi pasar tapi ternyata, fakta penyerapannya kecil. Bahkan kami ingin memasukkan ke penyalur, tapi mereka semua belum mau terima karena stoknya masih banyak," kata Buwas di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa 16 Oktober 2019.

    Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan beras belum begitu melonjak. Kondisi tersebut juga sejalan dengan ketersediaan stok beras di sejumlah sentra penjualan beras maupun pasar induk beras seperti di Cipinang yang masih mencukupi.

    Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini mengungkapkan, penyerapan beras Bulog yang tak sesuai harapan juga karena penyaluran beras untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) masih di bawah target. Dari target 150 ribu ton per bulan hanya 60 ribu ton per bulan beras Bulog diserap untuk BPNT.

    Padahal sampai akhir tahun, Bulog menargetkan bisa menyalurkan beras sampai dengan 700 ribu ton. Hal ini, kata Buwas, menunjukkan bahwa beras untuk penerima BPNT masih bisa disuplai oleh beras di luar milik Bulog.

    "Berarti, BPNT masih bisa disuplai dengan pasar luar tuh, berarti kan cukup di luar. Berarti stok kita masih banyak," kata Budi Waseso.

    Dengan sejumlah alasan ini, Buwas tetap memperkirakan stok beras Bulog untuk stabilisasi harga beras sampai akhir Desember 2019 cukup. Buwas juga memperkirakan stok Bulog sampai akhir tahun berada pada kisaran 1,5 juta ton.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.