Ekspor Impor Rendah, BKPM: Kecanggihan Ekonomi Kita Semakin Kalah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kedua kiri) didampingi Seskab Pramono Anung (kanan), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kedua kanan) dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong (kiri) menerima pimpinan Hyundai Motors Group di Istana Merdeka Jakarta, Kamis, 25 Juli 2019. Pertemuan tersebut membahas rencana investasi Hyundai Motors Group di Indonesia. ANTARA

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kedua kiri) didampingi Seskab Pramono Anung (kanan), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kedua kanan) dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong (kiri) menerima pimpinan Hyundai Motors Group di Istana Merdeka Jakarta, Kamis, 25 Juli 2019. Pertemuan tersebut membahas rencana investasi Hyundai Motors Group di Indonesia. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Trikasih Lembong menyoroti rendahnya porsi ekspor impor dalam perekonomian Indonesia. Ia menyebut peran ekspor impor Tanah Air terhadap perekonomian memang sangat rendah ketimbang negara-negara lain.

    "Akibatnya kecanggihan ekonomi kita semakin kalah dengan negara tetangga yang lebih terintegrasi dengan ekonomi regional dan ekonomi internasional," ujar Lembong  di Ballroom Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019. 

    Lembong mengatakan negara yang semakin membuka diri terhadap internasional akan semakin bisa mengambil teknologi dari negara lain. Semakin negara tertutup, malah semakin sulit mencontek pengalaman alias best practice dari negara lain.

    "Semakin best practice hadir, semakin mudah kita nyontek, semakin berkembang inovasi di sistem perekonomian kita. Tapi kita belum berhasil deinternasionalisasi dan mendongkrak ekspor impor," ujar Lembong.

    Di saat yang sama, Lembong mengingatkan bahwa negara saingan Indonesia tidak pernah statis. Artinya, ketika Indonesia memperbaiki daya saing, negara lain juga tidak berdiam diri dan terus melakukan inovasi, menandatangani perjanjian perdagangan, melakukan promosi, menarik investasi, hingga membenahi ketenagakerjaan. Ia menegaskan bahwa persaingan di regional dan internasional sejatinya sangat dinamis.

    Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan Indonesia mendapat keuntungan dari kecilnya porsi ekspor impor dalam komponen perekonomian Tanah Air. Keuntungan yang diperoleh antara lain Indonesia tidak begitu terpengaruh kondisi perekonomian global.

    Sehingga, dalam kondisi ekonomi global yang dilingkupi ketidakpastian, Darmin mengatakan Indonesia bertahan di pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen. Sementara, negara lain yang mengandalkan ekspor impor justru perekonomiannya ikut melesu.

    "Itu keuntungan dalam situasi ekonomi global lesu, kita tidak sebanyak negara lain terpengaruh," ujar dia. Hanya saja, ketika ekonomi pulih, maka negara yang mengandalkan ekspor dalam Produk Domestik Brutonya pertumbuhan ekonominya akan melejit dan melampaui Indonesia. "Jadi walau ada keuntungannya, kita merasa itu tidak pantas dipertahankan."

    Karena itu lah, Darmin mengatakan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam satu periode ke belakang terus menggenjot infrastruktur hingga mengeluarkan kebijakan guna menggenjot ekspor Tanah Air. Sehingga, Indonesia tidak melulu berorientasi kepada pasar domestik.

    "Kenapa? Begitu perekonomian dunia tumbuh tinggi, kita tidak bisa memanfaatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu dan kita akan tertinggal pertumbuhannya dibandingkan negara lain yang berorientasi ekspor," ujar Darmin.

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.