Mati Suri 26 Tahun, PFN Kucurkan Rp 100 Miliar Danai 21 Film

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati pameran sejarah perfilman nasional di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Sabtu 30 Maret 2019. Kegiatan yang berisi tentang pameran sejarah perfilman, workshop perfilman, pemutaran film Indonesia, kelas inspirasi sinema tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Film Nasional. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    Pengunjung mengamati pameran sejarah perfilman nasional di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Sabtu 30 Maret 2019. Kegiatan yang berisi tentang pameran sejarah perfilman, workshop perfilman, pemutaran film Indonesia, kelas inspirasi sinema tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Film Nasional. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Perum Produksi Film Negara (PFN) menggelontorkan Rp 100 miliar untuk memproduksi 21 film hingga 2023 yang menandai kebangkitan setelah tidak berproduksi selama 26 tahun.

    “Di 2020 sampai 2023 kami merencanakan untuk memproduksi sekitar 21 film,” kata Direktur Utama PFN Judith J Dipodiputro dalam diskusi Ngopi BUMN di Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019.

    Judith menyebutkan genre film yang akan diproduksi PFN beragam, namun tema besar yakni sejarah (1945, Hoegeng, Kairo-Tiga Sahabat Menggali Dunia dan Saimar), film petualangan anak (Si Unyil The Movie, Lima Menerjang Badai, Sang Timur Jauh), dan film drama (Akad, Layar Terkembang, Sabai Nun Aluih) yang merupakan kerja sama antara lain dengan PT Balai Pustaka, PT Indonesia Tourism Development Corporation, PT Ideosource, dan Dante Sinema.

    “Kami tahu film yang disiapkan oleh PFN adalah film-film yang benar-benar diperlukan, makanya kami mengangkat Bung Hatta, Hoegeng, lalu juga ada Saimar,” kata Judith.

    Ia juga berharap dukungan masyarakat dengan adanya produksi film tersebut. “Kami mengharap dukungan dari masyarakat dan kolaborasi dari berbagai produsen film yang meminati film-film bersejarah,” ujar Judith.

    Ia pun membuka kesempatan kepada para sineas muda dari kalangan milenial untuk mengembangkan film-film sesuai dengan pasar saat ini.

    “Karena milenial itu yang paling tahu bagaimana berbicara kepada milenial, apalagi yang memang sekolah perfilman yang memahami sinematografi, tentunya akan tahu film apa yang akan mengena bagi teman-temannya,” kata Judith.

    Dalam kesempatan sama, Direktur Komersial dan Marketing PFN Elprisdat mengatakan biaya untuk memproduksi satu film rata-rata Rp 5 miliar.

    “Jadi kita targetkan bisa Rp 100 miliar. Itu target konservatif, batas bawah kan bikin film bisa berfluktuasi,” katanya.

    Ia memperkirakan pihaknya sudah bisa meraih balik modal apabila bisa mendatangkan 400.000 penonton. “Film Rp 5 miliar, kalau dapat penonton 400.000 sudah break even point, itu hanya dari tiket, belum pendapatan lainnya,” katanya.

    Pada 2018 Perum PFN bangkit kembali setelah tidak berproduksi selama lebih dari 26 tahun dan menghasilkan film Kuambil Lagi Hatiku dengan Sutradara Azhar Kinoi Lubis, Produser Salman Aristo dan dibintangi antara lain Dimas Aditya, Lala Karmela, Sahil Shah, Dian Sidik, dan Ence Bagus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?