Budi Waseso Pecat 68 Pegawai Nakal Selama Menjadi Dirut Bulog

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso melepas 20 truk untuk operasi pasar wilayah DKI Jakarta dari Kantor Pusat Perum Bulog, Senin, 23 September 2019. TEMPO/Eko Wahyudi

    Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso melepas 20 truk untuk operasi pasar wilayah DKI Jakarta dari Kantor Pusat Perum Bulog, Senin, 23 September 2019. TEMPO/Eko Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengatakan masih terjadi 'permainan' di tubuh Bulog. Sejak awal menjabat, dia sudah memecat 68 pegawai yang ketahuan bermain dalam penjualan beras yang merugikan masyarakat dan Bulog.

    "Ada 68 yang sudah rontok, ini bisa ada lagi yang nyusul. Ya gak apa-apa memang untuk kebaikan, saya tidak ada benci, saya juga sayang dengan mereka," kata Budi saat wawancara dengan Tempo di kantornya, Selasa, 15 Oktober 2019.

    Menurut dia, jabatan di Bulog memerlukan komitmen yang kuat. "Ini tugas amanah yang luar biasa menurut saya, masa pada main-main, saya ga mau. Kalau gitu keluar saja. Saya kalau mau keras-kerasan, saya orang yang paling keras. Kalau tega-tegaan, saya orang paling tega," ujar dia.

    Selama di Bulog, Budi mengatakan selalu ingatkan pegawai untuk tidak bermain-main. Rasa ikhlas, kata dia, harus tumbuh pada diri pegawai Bulog.

    Hal itu, karena dia menilai, Bulog merupakan tempat pengabdian yang bagus. "Punya nilai dunia akhirat menurut saya," kata dia.

    Dia meminta pegawai Bulog tidak mementingkan kepentingan pribadi selama bekerja. "Tolong yang kamu lakukan itu kamu pikir lah anak istri mu, komitmen kamu di Bulog itu kaya apa."

    Menurut Budi, saat ini masih ada mafia di sektor pangan. Hal itu, terlihat dari Bulog yang jualan ke rumah-rumah, supplier atau pedagang-pedagang dan ke pasar induk, tidak laku.

    "Kan lucu nih. Berarti kan berasnya penuh. makanya harganya dikuasai mereka.
    Kaya bawang begitu, supaya mereka masuk impor, harga dikuasai mereka. Tata niaga, harga, itu dikuasai mereka," ujar Budi.

    Karena itu menurut Budi, semua harus pihak bekerja sama seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

    "Saya sebagian aja. Kalau semua ikut bermain di situ, ya mati kita dikunci sudah," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.