BPS: Impor September Naik Lagi, Nilainya USD 14,25 Miliar

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rilis Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2018 di Kantor Badan Pusat Statistik, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin 29 Juli 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    Rilis Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2018 di Kantor Badan Pusat Statistik, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin 29 Juli 2019. Tempo/ Fikri Arigi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kinerja impor sepanjang September 2019 mengalami kenaikan sebesar 0,63 persen atau setara US$ 88,9 juta menjadi US$ 14,25 miliar. Menurut catatan Badan Pusat Statistik atau BPS kenaikan 0,63 persen tersebut terjadi dibandingkan Agustus 2019.

    "Jadi kalau dibandingkan pada Agustus bulan kemarin impor sepanjang September berarti impor naik tipis 0,63 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto saat mengelar konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa 15 September 2019.

    Menurut Suhariyanto, meski nilai impor naik, impor untuk sektor minyak dan gas (migas) justru mengalami penurunan 2,36 persen. Sedangkan impor migas tercatat masih mengalami kenaikkan sebesar 1,02 persen. Dia mengatakan impor migas yang menurun ini karena impor minyak mentah mengalami penurunan.

    Kemudian jika dilihat sepanjang Januari hingga September 2019, total nilai impor sebesar Us$ 126,12 miliar. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018, angka ini justru mengalami penurunan 9,12 persen. Sedangkan, jika dibandingkan September 2018 total nilai impor tersebut menurun 2,41 persen.

    Jika dilihat berdasarkan golongan, bahan impor untuk konsumsi naik 3,13 persen secara bulanan sedangkan secara tahunan naik 6,09 persen. Selanjutnya, impor bahan baku atau penolong, angka impor turun 0,70 persen dan secara tahunan menurun 5,91 persen.

    Sedangkan untuk impor barang modal tercatat naik 4,80 persen secara bulanan. Adapun secara tahunan angka impor naik 8,91 persen. Secara umum, tren impor diperkirakan masih mengikuti tren-tren tahun sebelumnya, yakni berpotensi mengalami kenaikan pada akhir tahun.

    "Persentase impor barang konsumsi mencapai 9,86 persen dengan mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya," ujar Suhariyanto.

    Sementara itu, beberapa komoditas yang naik impornya adalah serelia, kapal laut dan bangunan terapung, kendaraan dan bagiannya, bahan kimia organik, dan kapas. Sedangkan, barang impor yang menurun antara lain; binatang hidup, benda dari besi dan baja, tembaga, pesawat dan bagiannya, serta gula dan kembang gula.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.