Bukalapak Tanggapi Soal Adopsi TI RI Kalah dari Malaysia

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas karyawan di kantor pusat Bukalapak, Jakarta, Selasa, 8 Oktober 2019. Mitra Bukalapak merupakan program untuk warung atau toko kelontong agar ikut terjamah teknologi dalam berbisnis. TEMPO/Tony Hartawan

    Aktivitas karyawan di kantor pusat Bukalapak, Jakarta, Selasa, 8 Oktober 2019. Mitra Bukalapak merupakan program untuk warung atau toko kelontong agar ikut terjamah teknologi dalam berbisnis. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Korporat Komunikasi Bukalapak Intan Wibisono menanggapi laporan Bank Dunia yang menyebut adopsi teknologi dan informasi di Indonesia masih kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia. Menurut Intan, Bukalapak masih optimis dengan pengembangan sumber daya manusia sektor teknologi di dalam negeri.

    "Untuk itu kami di Bukalapak optimis dengan pengembangan dan sinergi yang dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan, dalam hal ini dukungan dalam pengembangan studi, riset, maupun praktek kerja akan terus meningkatkan daya saing SDM TI Indonesia," kata Intan melalui pesan singkat, Senin, 14 Oktober 2019.

    Intan menuturkan, guna menghadapi revolusi industri 4.0, keberadaan SDM TI yang berkualitas itu sangat penting dan dibutuhkan. Itu disebabkan industri digital dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir berkembang sangat begitu cepat.

    Kemudian Intan mengatakan, saat ini di Indonesia masih memiliki SDM TI yang berkualitas dan sangat potensial untuk menciptakan inovasi yang berguna bagi masyarakat.

    Oleh karena itu, ia menyatakan, dari 2.000 orang yang bekerja di Bukalapak, tenaga kerja lokal dalam sektor teknologi masih mendominasi jika dibandingkan dengan tenaga kerja asing yang saat ini masih aktif bekerja di sana. Namun ia enggan menyebutkan jumlah atau perbandingan SDM Indonesia dan SDM luar negeri yang bekerja di Bukalapak. "Jumlahnya kecil banget, bisa dibilang yang benar-benar mendominasi itu lokal," ucapnya.

    Dalam laporan "World Bank East Asia and Pacific Economics Update: Weathering Growing Risk", Bank Dunia mencatat adopsi teknologi dan informasi (TI) di Indonesia, masih kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.

    Contohnya Singapura, mencatat nilai mendekati 0,90, yang mana angka 1 menunjukkan paling baik. Sedangkan Thailand menyusul dengan skor mendekati 0,70. Adapun Indonesia masih kalah tipis dari Vietnam hanya mampu mencatatkan skor sekitar 0,45.

    Secara keseluruhan, skor Digital Adoption Index (DAI) Indonesia hanya mampu unggul dari negara seperti Kamboja dan Laos. Masing-masing negara itu memiliki skor 0,40 dan 0,25.

    Adapun laporan yang ada dalam DAI itu membagi penerapan teknologi ke dalam tiga sektor, yakni pemerintah, bisnis dan juga masyarakat. Menurut laporan tersebut, skor adopsi teknologi paling besar dilakukan pemerintah, masyarakat dan terakhir oleh sektor bisnis.

    EKO WAHYUDI l DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.