Pariwisata RI Lemah Soal Lingkungan, PHRI: Masalahnya Sampah

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hariyadi Sukamdani dalam Seminar Nasional Peran Serta Dunia Usaha Dalam Membangun Sistem Perpajakan dan Moneter di Kempinski Grand Indonesia Ballroom. Jakarta, 14 September 2018. TEMPO/Candrika Radita Putri

    Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hariyadi Sukamdani dalam Seminar Nasional Peran Serta Dunia Usaha Dalam Membangun Sistem Perpajakan dan Moneter di Kempinski Grand Indonesia Ballroom. Jakarta, 14 September 2018. TEMPO/Candrika Radita Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Hariyadi Sukamdani mengatakan sampah menjadi persoalan dalam lingkungan pariwisata di Indonesia.

    "Di turisme paling banyak masalahnya sampah, seperti di Jakarta kan sampai sekarang kita enggak tahu itu limbah diapain, kita enggak tahu progresnya gimana, padahal sehari bisa lebih dari 10 ribu ton," ujar Hariyadi di Gedung Universitas Indonesia, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019.

    Di samping, dalam hal lingkungan, Hariyadi menyebut sulitnya mengedukasi masyarakat. Terutama masalah limbah dan kebakaran hutan yang belakangan menjadi topik hangat di masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia menempati peringkat buntut dalam indeks daya saing travel dan turisme bidang keberlanjutan lingkungan.

    Ia mengatakan persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara parsial, melainkan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat. "Koordinasi ini masih sangat lemah, baik rumah tangga maupun individual," ujar dia.

    Contohnya saja, kata Hariyadi, dalam membuang sampah, memilah, dan proses lanjutannya. Dalam berbagai kejadian, kerap kali masyarakat sudah memilah sampahnya, namun pengumpulannya kembali dicampur lagi. "Jadi kita tidak bisa bicara skala nasional kalau tidak diberesin yang kecilnya, salah satunya bicara dengan kepala daerah, bagaimana pengelolaan limbah."

    Sebelumnya, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata Kementerian Pariwisata Anang Sutono mengatakan ada tiga sektor yang perlu diperbaiki guna mendongkrak daya saing Indonesia di kancah dunia. Sektor tersebut antara lain keberlanjutan lingkungan, kesehatan dan kebersihan, serta infrastruktur pelayanan wisatawan.

    "Kami sedang mengerjakan itu, tiga sektor tersebut menjadi pekerjaan rumah untuk kami," ujar Anang. Berdasarkan data Indonesia Travel and Tourism Competitiveness, ia mengatakan posisi Indonesia untuk tiga bidang tersebut saat ini masih cukup rendah.

    Pada keberlanjutan lingkungan misalnya, Indonesia masih menempati peringkat 135 dari 140 negara. Sementara, pada kesehatan dan kebersihan, Indonesia menempati peringkat 102 dan pada infrastruktur layanan turis Tanah Air menempati peringkat 98.

    Untuk memperbaiki daya saing di tiga bidang terbawah itu, Anang mengatakan pemerintah sudah memiliki sejumlah strategi. Misalnya, pada keberlanjutan lingkungan, ada tiga strategi yang disiapkan antara lain membuat regulasi sektor pariwisata yang menjamin keberlanjutan industri pariwisata.

    Di samping itu, Anang mengatakan juga bakal ada regulasi lingkungan yang lebih ketat, serta regulasi yang menjamin keberlangsungan biota laut di wilayah pantai. Dengan strategi itu peringkat Indonesia ditargetkan naik ke peringkat 120 pada 2021.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?