PHRI Klaim Penusukan Wiranto Tak Pengaruhi Kunjungan Wisata ke RI

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani memberikan penghargaan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebagai Bapak Pariwisata Nasional dalam gala dinner HUT PHRI ke-50 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, 11 Februari 2019. TEMPO/Friski Riana

    Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani memberikan penghargaan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebagai Bapak Pariwisata Nasional dalam gala dinner HUT PHRI ke-50 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, 11 Februari 2019. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Hariyadi Sukamdani mengklaim isu keamanan seperti penusukan Wiranto, hingga kerusuhan di Wamena, Papua beberapa waktu lalu belum berpengaruh kepada jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

    "Enggak sih, sekarang Wamena ribut, memang turis mau ke Wamena? Kan enggak juga. Mungkin terpengaruh tapi jumlahnya enggak banyak," ujar Hariyadi di Gedung Universitas Indonesia, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019.

    Meski demikian, ia mengatakan pemerintah harus tetap menggenjot penjualan program alias program selling untuk mendongrak kunjungan wisatawan di Tanah Air. Saat ini, ia melihat aksi pemerintah pada penjualan program masih relatif lemah.

    Di samping itu, Hariyadi mengatakan dengan memperkuat penjualan program pariwisata, pemerintah juga bisa berkomunikasi dengan target pasar bahwa Indonesia aman. ia mengatakan tanpa adanya penjualan program, pesan itu juga jadi sulit tersampaikan kepada konsumen.

    Selain soal kunjungan wisatawan, menurut Hariyadi, isu keamanan juga tidak begitu berpengaruh kepada investasi yang masuk ke Indonesia. "Bagus, sampai hari ini enggak ada masalah," ujar dia.

    Sebelumnya, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia  Didien Junaedy mengatakan situasi keamanan yang tidak terjamin membuat wisatawan mancanegara enggan datang ke Indonesia, meskipun destinasi super prioritas sudah rampung pada tahun depan. Dalam hal ini, yang dimaksudkan dengan keamanan bukan hanya terkait sosial politik, tapi juga bencana alam yang terjadi di Indonesia.

    “Kalau situasi keamanannya terjamin, kemudian kita campaign soal itu, mau ditargetkan berapa pun pasti bisa,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa, 8 Oktober 2019.

    Dia mencontohkan, seperti kerusuhan di Papua. Meski hanya terjadi di Papua, para wisman akan menggeneralisir bahwa Indonesia secara umum merupakan destinasi yang tidak aman.

    Badan Pusat Statistik sebelumnya mencatat, pada 2018 kemarin, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara  hanya 15,81 juta atau sekitar 93 persen dari target Kementerian Pariwisata yang sebesar 17 juta kunjungan. Untuk 2019, Kemenpar tadinya menargetkan kunjungan wisman sebanyak 20 juta namun target tersebut dikoreksi menjadi 18 juta wisman.

    Berita penusukan Wiranto sempat dikhawatirkan membuat industri pariwisata lesu. Seperti diketahui,  Wiranto diserang Syahril Alamsyah alias Abu Rara, seorang anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi di Pandeglang, Banten Kamis pekan lalu. Wiranto pun terkena luka di bagian perut dan mesti mendapat perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta Pusat.

    CAESAR AKBAR | BISNIS

     

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.