Sri Mulyani Berbagi Kisah Menjadi Muslim Minoritas di Amerika

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan sambutan saat Perayaan Hari Kemerdekaan AS ke-243 di kediaman Duta Besar AS di Jakarta, Kamis, 4 Juli 2019. Selain Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto pun turut hadir dalam acara tersebut. ANTARA

    Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan sambutan saat Perayaan Hari Kemerdekaan AS ke-243 di kediaman Duta Besar AS di Jakarta, Kamis, 4 Juli 2019. Selain Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto pun turut hadir dalam acara tersebut. ANTARA

    TEMPO.CO, Depok - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bercerita soal pengalamannya menjadi seorang muslim dan minoritas saat berkarir selama enam tahun Amerika Serikat. Cerita itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam diskusi “Challenges of Diversity Management in a Public Organization” yang diadakan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI), di Kampus UI, Depok, Sabtu, 12 Oktober 2019.

    Menurut Sri Mulyani, ada beragam pengalaman yang Ia rasakan sebagai muslim yang merupakan kelompok minoritas di Amerika. “Terutama di bulan puasa, di mana saya harus berpuasa saat adanya pertemuan yang menyuguhkan kopi dan makanan,” ucapnya.

    Saat itu, bahkan kata Sri Mulyani, beberapa koleganya sempat bertanya dengan polos, “Apakah minum air dikecualikan dari berpuasa?” Pernyataan koleganya ini sontak mengundang tawa dari para peserta acara. 

    Meski demikian, beberapa kolega tersebut meminta maaf karena harus makan dan minum, sedangkan Sri Mulyani sedang berpuasa. Saat itulah, ia merasa sangat dihargai meski menjadi seorang minoritas. “Itu kenapa, diversity (keberagaman) itu tidak bisa hanya dipelajari di ruang kelas,” ujar Sri Mulyani.

    Di sisi lain, ia bercerita pengalamannya di Kementerian Keuangan saat sejumlah pegawai langsung keluar ruangan rapat ketika suara adzan berbunyi. Sri Mulyani tidak mempersoalkannya.

    Namun, Sri Mulyani lalu mengajukan pertanyaan, “Apakah kita mengerti perasaan teman nonmuslim yang kita tinggalkan begitu saja ketika sedang berlangsung kegiatan?”

    Sri Mulyani tidak menjelaskan lebih lanjut tindakan apa yang Ia ambil kemudian di Kementerian Keuangan mengenai hal ini. Namun dalam diskusi ini, ia hanya berharap kelompok Islam yang memang mayoritas di Indonesia juga memiliki empati terhadap kelompok minoritas dari agama lain.

    Soal mengelola keberagaman ini, Sri Mulyani, menyebutkan merupakan satu tantangan bagi dirinya di Kementerian Keuangan. Namun ia mengaku dirinya terbuka untuk membahas persoalan tersebut.

    Itu sebabnya, ia dan sejumlah pegawai kementerian mengadakan diskusi terbuka mengatasi isu-isu ini. “Saya bicara tidak hanya degan satu orang dalam ruang tertutup, tapi ke semuanya, sampai 1.000 orang,” ujar Sri Mulyani.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.