Sri Mulyani Ingin Semua Lingkungan Kerja Dukung Kesetaraan Gender

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bermain dengan anak-anak sekolah dasar dalam peluncuran Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bermain dengan anak-anak sekolah dasar dalam peluncuran Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kesetaraan gender di tempat kerja perlu terus diupayakan, mulai dari hulu hingga ke hilir. Salah satunya yaitu lewat kebijakan yang inklusif dan adil, antara laki-laki dan perempuan. 

    “Harus continue memberikan lingkungan yang fair antar perempuan,” kata Sri dalam diskusi “Challenges of Diversity Management in a Public Organization” yang diadakan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI), di Kampus UI, Depok, Sabtu, 12 Oktober 2019.

    Isu mengenai kesetaraan gender ini diungkap Sri karena diskusi fokus membahas keberagaman di organisasi publik. Namun sebelumnya, Sri juga beberapa kali aktif menyuarakan kesetaraan gender ini. Agustus, Sri Mulyani berujar pemerintah tengah berupaya menciptakan kesetaraan gender sejak awal. "Mesti dimulai sejak pendidikan anak usia dini atau PAUD," ujarnya dalam seminar bertajuk “Women Participation for Economic Inclusiveness” di Hotel Sheraton, Surabaya.

    Meski demikian, Sri mengatakan isu mengenai kesetaraan gender ini sebenarnya tidak terlalu terlihat di begitu terlihat di bangku sekolahan hingga universitas, Sebab, perempuan pun juga bisa mencapai level pendidikan yang tinggi. “Bahkan lulus graduate dengan prestasi yang bagus,” kata Sri Mulyani.

    Akan tetapi ketika memasuki dunia kerja, perempuan mulai bersentuhan dengan urusan rumah tangga, hamil, memiliki dan mengasuh anak. Situasi ini menjadi beban tersendiri bagi seorang perempuan. “Itu menyebabkan mereka perlu mendapatkan support, kalau tidak mereka akan drop out,” kata Sri Mulyani.

    Sehingga, kata Sri Mulyani, kebijakan yang afirmatif di lingkungan kerja pun perlu diberikan menimbang situasi yang dihadapi perempuan tersebut. Dengan begitu, Sri percaya, kesempatan yang sama bagi wanita untuk berkembang bisa diciptakan, setara dengan laki-laki. “Kita bisa berikan pemihakan yang seimbang antara keduanya,” kata Sri Mulyani.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.