Serapan Beras Bulog Tidak Bisa Optimal karena Gudang Penuh

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso saat meninjau stok beras di Gudang Bulog, Perum Bulog Divre DKI Jakarta, Kamis 10 Januari 2019. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso saat meninjau stok beras di Gudang Bulog, Perum Bulog Divre DKI Jakarta, Kamis 10 Januari 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian menilai realisasi pengadaan beras Perum Bulog yang masih jauh dari target bukan karena harga gabah yang merangkak naik. 

    "Ini karena tempatnya tidak ada. Ini serapan 1 juta ton saja sudah sewa gudang di enam provinsi. Kalau capai target, semua provinsi pasti sudah sewa gudang," kata Amran di Jakarta, Jumat 11 Oktober 2019.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut, realisasi pengadaan beras Bulog per 10 Oktober 2019 baru mencapai 1,07 juta ton dari target 1,8 juta ton. Namun, hal ini dikarenakan kondisi gudang penyimpanan yang telah penuh, bukan masalah harga.

    Usai melakukan sejumlah pemeriksaan di lapangan, Menteri Amran memastikan stok beras di enam provinsi sentra produksi dalam keadaan penuh. Saking penuhnya, sampai diperlukan sewa gedung tambahan untuk gudang.

    Keenam provinsi itu adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

    Harga gabah yang merangkak naik pun disebut Amran bukanlah alasan belum tercapainya serapan Bulog. Berdasarkan pantauannya di gudang Bulog di Kediri, Jawa Timur, setiap hari pengadaan beras masih dilakukan. Harga gabah yang naik pun ia nilai merupakan hal yang baik bagi petani.

    "Harga gabah ada kenaikan bagus dong untuk petani. Di Kediri selama kemarau tiap hari masuk 25 ton [ke gudang]. Itu menunjukkan masih ada penyerapan," tutur Amran.

    Harga gabah dan beras memang menunjukkan tren kenaikan seiring berkurangnya pasokan selama kemarau. Per September 2019, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani berada di level Rp4.905 per kg. 

    Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan nilai ini meningkat sebesar 3,07 persen dari bulan sebelumnya yang berada di angka Rp4.759 per kg. Hal yang sama terjadi pada gabah kering giling (GKG) yang naik menjadi Rp5.392 per kg dari yang sebelumnya tercatat sebesar Rp5.309 per kg.

    Sementara itu, HPP gabah sesuai Inpres Nomor 5 tahun 2015 sendiri dipatok sebesar Rp3.700 per kg untuk GKP tingkat petani ditambah fleksibilitas harga 10 persen menjadi Rp4.070 per kg. Sedangkan untuk GKG di gudang Bulog dihargai Rp4.650 per kg ditambah fleksibilitas harga 10 persen menjadi Rp5.115 per kg.

    BISNIS 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.