Minggu Kedua Oktober, Gubernur BI: Inflasi 0,04 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan sambutan dalam konferensi internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-13 di Bali, Kamis, 29 Agustus 2019. Istimewa

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan sambutan dalam konferensi internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-13 di Bali, Kamis, 29 Agustus 2019. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI memperkirakan perkembangan harga barang Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi pada minggu kedua Oktober bakal mencapai angka 0,04 persen secara month to month (mtm). Sedangkan untuk year on year angkanya mencapai 3,15 persen.

    "Perkembangan inflasi berdasarkan Survei Pemantauan Harga diperkirakan minggu kedua Oktober 2019 inflasi masih rendah 0,04 persen mtm dan 3,15 persen yoy," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui di Masjid Kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat 11 Oktober 2019.

    Menurut Perry, beberapa komoditas barang yang dicatat mengalami sedikit kenaikan seperti harga daging ayam ras, tomat sayur dan rokok kretek. Masing-masing, angkanya adalah 0,03 persen dan 0,01 persen untuk rokok dan tomat sayur.

    Meski secara umum terjadi inflasi, Bank Indonesia juga mencatat ada beberapa barang yang mengalami deflasi. Beberapa komoditas tersebut diantaranya adalah cabai merah 0,06 persen, cabai rawit 0,03 persen dan telur ayam ras 0,03 persen.

    Selain itu, ada pula komoditas bawang merah, angkutan udara dan juga kentang. Masing-masing komoditas dan sektor itu terjadi deflasi sebesar 0,01 persen.

    Perry mengungkapkan dengan kondisi perkembangan harga tersebut, BI menyatakan bahwa harga-harga barang masih terkendali. Hal ini diharapkan sampai akhir tahun 2019 inflasi diperkirakan masih akan sesuai target.

    "Alhamdulilah harga terkendali rendah dan sejalan dengan perkiraan akhir tahun insyallah inflasi di bawah titik tengah sasaran inflasi 3,5 persen," kata Perry.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.