Sri Mulyani Sebut Ekonomi Digital RI Bisa Tembus Rp 1.838 T

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati saat memberikan sambutan di acara konferensi peluncuran

    Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati saat memberikan sambutan di acara konferensi peluncuran "Social Impact Report 2018-2019" Grab di Jakarta.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pertumbuhan ekonomi digital RI amat tinggi, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Setiap tahun, ekonomi digital tumbuh 40 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional 2019 hanya 5 persen.

    "Ini merupakan suatu angka yang membuat kita semua iri, ekonomi secara umum saja hanya tumbuh 5 persen. Namun sektor ekonomi digital ini bisa tumbuh 40 persen, itu sesuatu yang luar biasa," kata dia di kawasan Thamrin, Jakarta, Kamis malam, 10 Oktober 2019.

    Dia melanjutkan, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi digital terbesar di dunia. "Kita mengatakan bahwa Indonesia, merupakan salah satu negara di Asia atau Asia Tenggara atau bahkan di dunia, di mana pertumbuhan ekonomi digitalnya termasuk tercepat," ucapnya.

    Dari pertumbuhan yang sangat cepat tersebut, Sri Mulyani memperkirakan dalam enam tahun mendatang, ekonomi digital bisa tumbuh 325 persen dengan nilai sekitar US$ 130 miliar atau setara Rp 1.838 triliun dengan kurs Rp 14.139 per dolar AS. Pada 2019, ekonomi digital baru mencapai US$ 40 miliar. "Perkembangannya sangat luar biasa dan sangat cepat di Indonesia," ujarnya.

    Namun pertumbuhan yang begitu cepat dalam waktu yang singkat pasti ada konsekuensinya. Dia mencontohkan seperti perusahaan teknologi Tokopedia sebagai korporasi yang relatif muda, harus ada perubahan yang cepat dibandingkan dengan pertumbuhannya. "Pasti Tokopedia akan terus mengahadapi berbagai macam potensi dalam bentuk cobaan," katanya.

    Selain itu kenaikan valuasi Tokopedia juga akan menimbulkan berbagai macam tekanan. Sehingga, kata Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia, mereka harus memperkuat pondasi dari korporasi dan memperbaiki tata kelola agar akan terus semakin baik ke depannya. "Pertumbuhan yang sangat cepat maka akan menimbulkan tekanan," ujar Sri Mulyani.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.