Hanya Jago Kandang, Daya Saing Indonesia Turun 5 Peringkat

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan PM Australia Malcom Turnbull didampingi Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Kepala Bekraf Triawan Munaf mengunjungi pameran produk perdagangan di sela KTT Indian Ocean Rim Association (IORA) ke-20 di JCC, Senayan, Jakarta, 7 Maret 2017. Pameran produk perdagangan dan potensi wisata dalam negeri itu diharapkan dapat menarik minat peserta KTT IORA untuk membeli produk Indonesia sehingga meningkatkan daya saing di kancah internasional. ANTARA FOTO

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan PM Australia Malcom Turnbull didampingi Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Kepala Bekraf Triawan Munaf mengunjungi pameran produk perdagangan di sela KTT Indian Ocean Rim Association (IORA) ke-20 di JCC, Senayan, Jakarta, 7 Maret 2017. Pameran produk perdagangan dan potensi wisata dalam negeri itu diharapkan dapat menarik minat peserta KTT IORA untuk membeli produk Indonesia sehingga meningkatkan daya saing di kancah internasional. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Data Global Competitiveness Report terbaru dari World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa daya saing Indonesia pada level global cenderung turun. Penurunan daya saing itu terjadi pada sisi adopsi teknologi, kesehatan, pengembangan skill, pasar tenaga kerja, serta perdagangan dan jasa.

    Peringkat daya saing Indonesia berdasarkan laporan World Economics Forum (WEF) 2019 tersebut, turun lima peringkat menjadi urutan ke-50. Tahun sebelumnya, daya saing Indonesia ada di posisi 45.

    Merespons penurunan peringkat daya saing ini, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core), Mohammad Faisal, menerangkan hal ini bukan hanya menunjukkan bahwa Indonesia kalah cepat dibandingkan negara lain dalam meningkatkan daya saing. Lebih dari itu, penurunan daya saing ini juga menggambarkan bahwa Indonesia hanya unggul di pasar domestik.

    "Kelemahan daya saing kita yang paling besar kalau dilihat indikator-indikatornya salah satunya memang dalam hal inovasi, adopsi teknologi informasi, dan ketenagakerjaan," ujar Faisal, Rabu 9 Oktober 2019.

    Karena itu, kata Faisal, ke depan, pemerintah perlu menggalakkan riset yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Riset tersebut harus memiliki realisasi dan dampak yang konkret kepada sektor riil serta mendorong daya saing industri.

    Di tengah wacana revisi UU Ketenagakerjaan, Faisal berharap pemerintah tidak memperhatikan keunikan dan perbedaan antar daerah terutama terkait pengupahan. Dalam implementasi pengupahan yang ada sekarang, disparitas upah antara satu daerah ke daerah lain masih terlalu tinggi.

    Peneliti Indef, Bhima Yudhistira, menilai  penurunan daya saing Indonesia pada level global disebabkan hambatan regulasi, kurang siapnya Sumber Daya Manusia (SDM), kurangnya akses internet di luar Jawa, serta ketersediaan air bersih yang belum merata.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.