Banyak Startup Gagal, Kominfo: Bisnis Ya Kayak Gitu

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta menyimak diskusi di sela-sela peluncuran Ignite the Nation-Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Satu Indonesia di Istora Senayan, Jakarta, Ahad, 18 Agustus 2019. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Peserta menyimak diskusi di sela-sela peluncuran Ignite the Nation-Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Satu Indonesia di Istora Senayan, Jakarta, Ahad, 18 Agustus 2019. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Dirjen Aptika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan persaingan bisnis digital sangat ketat dan melibatkan banyak pelaku. Sehingga, dia menilai kegagalan sebuah startup untuk meraih kesuksesan adalah hal biasa dalam sebuah ekosistem bisnis.

    "Mungkin yang kita lihat tentang success rate di dunia malah cuma 2 sampai 3 persen karena pelakunya banyak, karena tidak semua orang yang berbisnis sukses. Jangankan startup, bisnis yang sekarang aja banyak yang mati, bisnis ya kaya gitu," kata Semuel di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu 9 Oktober 2019.

    Semuel mengungkapkan, perusahaan rintisan yang gagal itu bukan  hanya karena kehabisan dana. Namun, bisa jadi mereka melakukan penggabungan antar-startup dan menghasilkan model bisnis yang baru.

    Dia mencontohkan, awal mula perusahaan raksasa teknologi Google yang sebelumnya pernah jatuh bangun dalam membangun perusahaannya. Sejak berdiri 4 Septemer 1998, mereka mempunyai banyak saingan dengan lini bisnis yang serupa. "Kenapa Google yang jadi, ya itu tadi penggabungan," ucapnya.

    Semuel mengatakan, penyebab banyaknya kegagalan dari perusahaan rintisan tersebut karena banyak faktor, antara lain adalah seperti kurang dana, tidak ada pasar yang jelas, kurangnya inovasi dan masih banyak lagi alasan lainnya. "Tergantung kondisi dari startup tersebut," katanya.

    Sebelumnya, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengklaim  telah mencetak 1.307 perusahaan rintisan atau startup selama lima tahun masa kepemimpinannya. Menurut dia, hal ini dilakukan guna menghadapi perubahan zaman seperti revolusi industri 4.0.

    "Dalam massa lima tahun, dari 2014 sampai 2019, Indonesia bisa menghasilkan 1.307 startup. Bahkan, ternyata sudah ada yg berkolaborasi dengan perusahana luar negeri. Ini terobosan yang dijalankan pemerintah," kata Nasir di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis 3 Oktober 2019.

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.