Rudiantara Sebut Startup yang Sukses Cuma Lima Persen

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memberikan keterangan tentang jumlah hoaks yang terus berkembang di media sosial menjelang Pemilu seusai acara temu Perhimpunan Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni) di Hall 2D, Jakarta Convention Center, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 3 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memberikan keterangan tentang jumlah hoaks yang terus berkembang di media sosial menjelang Pemilu seusai acara temu Perhimpunan Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni) di Hall 2D, Jakarta Convention Center, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 3 April 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan tingkat keberhasilan untuk perusahaan rintisan atau startup untuk menjadi usaha yang mapan hanya berada di angka lima persen di seluruh muka bumi. Menurutnya, dalam mengembangkan sebuah perusahaan rintisan itu tidak mudah dan penuh tantangan.

    "Secara sucses rate, startup mungkin cuma lima persen. Lebih banyak gagalnya dibandingkan yang berhasil," kata Rudiantara di Kantor Bukalapak, Jakarta Selatan, Selasa, 8 Oktober 2019.

    Dia menjelaskan, sering bertemu dengan perusahaan rintisan abal-abal di Indonesia. "Enggak apa-apa bagi saya senang-senang aja, saya bertemu dengan beberapa anak muda," ujarnya.

    Rudiantara mengungkapkan dari kegagalan beberapa perusahaan rintisan, bahwa para pendirinya sering melupakan untuk mengukur seberapa besar pasar yang akan menjadi sasaran dari produknya. Padahal itu akan membuat sebuah perusahaan bisa bertahan.

    "Selain itu, mereka lupa terhadap market, ada nggak pasarnya? We need to validate the market," ungkap dia.

    Oleh karena itu, Rudiantara menjelaskan, pemerintah terus ikut andil agar semakin banyak unicorn-unicorn baru lahir di dalam negeri. Termasuk di dalamnya dengan program akselerasi bagi perusahaan rintisan baru.

    "Makanya pemerintah membuat program seribu startup baru, agar mereka melewati fase-fase yang harus dilakukan oleh startup pada umumnya seperti akselerasi, inkubasi hingga ke tahap principal capital. Gimana caranya memberikan success rate ini harus di atas 75 persen, dan kemudian naik kelas menjadi unicorn," ujarnya.

    Rudiantara juga menyebutkan pada kesempatan yang sama bahwa perusahaan dompet digital Ovo telah menyandang status unicorn karena valuasi perusahaannya telah mencapai lebih dari US$ 1 miliar. Ovo menjadi unicorn kelima menyusul Bukalapak, Gojek, Grab, dan Tokopedia.

    Untuk valuasi Ovo diduga telah menyentuh US$ 2,9 miliar atau Rp 41 triliun. Laman CB Insight mencatat valuasi OVO tersebut tercatat sejak 14 Maret 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.