Ketidakpastian Global, IHSG 2019 Diprediksi Hanya Tumbuh 2 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan tumbuh melambat menjelang akhir tahun ini. MNC Sekuritas menargetkan IHSG bisa mencapai level 6.334 pada akhir tahun, tumbuh flat sebesar 2,26 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).  

    Investor disarankan untuk menyikapi turbulensi pasar saham dengan bijak.  Alasannya, ada potensi penurunan yang signifikan pada paruh pertama tahun depan. 

    “Kami menyakini bahwa potensi recovery dapat terjadi pada kuartal IV/2019, ditopang oleh aksi window dressing di tengah valuasi beberapa blue chip yang cukup reasonable saat ini,” kata Head of Research Institusi MNC Sekuritas Thendra Crisnanda seperti dilansir Bisnis.com, Ahad 6 Oktober 2019.

    MNC Sekuritas mencermati peluang investasi untuk saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) pada level Rp3.800–Rp3.810 dengan rekomendasi buy saat ini. 

    Selain itu, saham emiten rokok seperti PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) juga dinilai menarik apabila terjadi koreksi lanjutan.

    Senior Analyst PNM Investment Management Usman Hidayat juga memperkirakan IHSG hanya mampu rebound ke kisaran 6.400 pada akhir 2019 ditopang oleh turunnya volatilitas di pasar keuangan. 

    “Memang secara year-to-date, Indonesia di posisi kedua terbawah pada 2019 ini di bandingkan bursa lainnya di kawasan. Penurunan ini tampaknya terjadi pada 6 bulan terakhir,” kata Usman.

    Hidayat menuturkan bursa saham global secara umum mulai melemah sejak Maret 2019. Namun demikian, pergerakan pasar keuangan menjelang akhir tahun ini diperkirakan bisa menguat terbatas seiring dengan turunnya risiko ketidakpastian global, konsolidasi perang dagang dan geopolitik.

    Saat ini, Usman melanjutkan, volatilitas pasar saham secara ytd tercatat sebesar 0,7 persen. Adapun, tingkat volatilitas tersebut digunakan untuk mengukur kemungkinan risiko rugi per hari ketika berinvestasi di saham.

    Sementara dari domestik, Usman menilai masa penghabisan APBN bakal mendongkrak kinerja saham BUMN Karya. “Utamanya karena APBN akan dihabiskan, kontraktor pemerintah akan mendapat modal, seperti WSKT atau ADHI itu cash-flow-nya akan bagus sehingga saham-saham Karya bisa naik karena APBN kaitannya dengan disbursement dari pendanaan,” tutur Usman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.