Kemenhub: Dwelling Time di Pelabuhan Priok Turun Menjadi 2,4 Hari

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana bongkar-muat pada malam hari di Terminal Pelabuhan Indonsesia II (IPC) Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 31 Oktober 2018. Angka <i>dwelling time</i> atau waktu tunggu bongkar muat pun turun menjadi di bawah tiga hari dengan target tahun in 2,5 hari. TEMPO/Amston Probel

    Suasana bongkar-muat pada malam hari di Terminal Pelabuhan Indonsesia II (IPC) Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 31 Oktober 2018. Angka dwelling time atau waktu tunggu bongkar muat pun turun menjadi di bawah tiga hari dengan target tahun in 2,5 hari. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mencatat masa penimbunan peti kemas atau dwelling time di pelabuhan logistik Tanjung Priok turun menjadi rata-rata 2,4 hari. Pada April lalu, masa dwelling time untuk barang ekspor-impor masih di atas 3 hari sehingga acap menimbulkan penumpukan.

    “Penurunan angka dwelling time ini diikuti oleh peningkatan volume kapasitas bongkar-muat barang,” ujar Budi Karya di kompleks Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Ahad, 6 Oktober 2019.

    Hingga pengujung 2019, Budi Karya menargetkan bongkar-muat kapal di seluruh terminal di Tanjung Priok akan mencapai 8 juta TEUs. Angka tersebut naik sekitar 500 ribu TEUs dari tahun lalu yang hanya 7,5 juta TEUs.

    Corporate Communication PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPS) Fajar Setyono mengatakan adanya digitalisasi sistem bongkar-muat kapal telah berkontribusi menekan dwelling time. Dengan digitalisasi, proses bongkar-muat kontainer menjadi lebih cepat ketimbang sebelumnya.

    “Selain itu, kami membuka pelayanan bongkar-muat 7x24 jam,” ucapnya. Pelayanan non-stop, ujar dia, akan meningkatkan aktivitas bongkar-muat barang dari semula sekali sepekan menjadi dua hingga tiga kali sepekan. Penambahan waktu pelayanan tersebut juga berdampak mengurangi kemacetan di jalan tol sekitar Tanjung Priok imbas bongkar-muat barang.

    Tak hanya oleh IPC, kantor Bea Cukai juga berkontribusi dalam menekan dwelling time. Menurut Fajar, Bea Cukai dibutuhkan dalam proses custom clearance adalah proses administrasi pengeluaran atau pengiriman barang dari dan ke pelabuhan logistik.

    “Instansi lain yang terkait custom clearance, misalnya karantina untuk tumbuhan dan hewan serta syahbandar untuk dokumen kapal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.